Aglonema dan Pohon Durian ke Makassar, Sapote ke Gowa, Daun Cincau pun ke Karimun

Uritanet, – Ratusan bibit Aglonema diperiksa pejabat Karantina Pertanian Lampung tujuan Makassar. Sebelum dilalulintaskan, pejabat karantina telah memeriksa 402 batang bibit Aglonema tersebut.

“Ratusan bibit aglonema ini sudah diperiksa pejabat karantina sebelum berangkat ke Makassar. Bibit-bibit ini rencananya akan dikirim melalui kargo Bandara Raden Inten II menuju Bandara Hasanudin, Makassar,” ujar Abdul Aziz, penjual bibit.

“Saya sudah biasa mengirim bibit tanaman dan selalu lapor karantina. Dari proses pemeriksaan hingga terbit sertifikatnya pun tidak membutuhkan waktu yang lama,” tambahnya.

Karantina Pertanian Lampung selalu siap menjamin kesehatan komoditas pertanian baik berupa hewan, tumbuhan maupun produk turunannya.

Selain itu, siapa yang tidak suka buah durian, salah satu buah eksotis kesukaan masyarakat Indonesia. Raja buah ini kaya akan vitamin C, vitamin A, magnesium, serta antioksidan. Kali ini bukan hanya buahnya yang diburu, tetapi juga bibit tanamannya.

Pejabat Karantina Pertanian Lampung pun melakukan pemeriksaan terhadap satu batang bibit tanaman durian yang akan diberangkatkan menggunakan pesawat terbang menuju Sulawesi, Kabupaten Polewali Mandar.

“Secara keseluruhan fisiknya, baik daunnya tidak menunjukkan gejala serangan organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK),” ujar Dwi Puji, pejabat karantina tumbuhan yang bertugas.

“Kita tinggal menerbitkan sertifikat kesehatan tumbuhan antar area KT-12 nya,” jelas Samsul Hidayat.

Tak hanya bibit durian, tanaman buah seperti sawo yang merupakan tanaman hortikultura yang belum banyak dibudidayakan di luar Jawa Tengah. Tanaman sawo dengan nama latin Mamey sapote ini banyak digemari masyarakat karena perawatan mudah dan buah besar.

Pejabat Karantina Pertanian Semarang lantas melakukan pemeriksaan karantina terhadap dua batang tanaman sawo sebelum dikirim ke Gowa. Dari hasil pemeriksaan, tanaman tersebut dinyatakan bebas dari serangga dan siap terbang ke Gowa.

Cisilia Triwidiyanti selaku Subkoordinator Karantina Tumbuhan menjelaskan bahwa sistem budidaya tanaman sawo bisa dilakukan dengan cara sambung atau cangkok agar cepat berbuah. Dalam waktu 1,5 tahun komoditas tersebut dapat berbuah. Tentunya pemberian pupuk, penyiraman dan pengendalian hama dan penyakit tumbuhan harus rutin dilakukan.

Begitu pula dengan 1200 kg daun cincau dari Jakarta yang dilaporkan oleh pemiliknya kepada Pejabat Karantina Pertanian Karimun Wilayah Kerja Tanjung Balai Karimun. Daun cincau yang nantinya akan dijadikan bahan baku perasa minuman kaleng, oleh Pejabat Karantina Pertanian Karimun dilakukan tindakan karantina meliputi pemeriksaan dokumen dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik dan visual komoditas tersebut.

“Jumlah bahan baku cincau sesuai dengan dokumen (Sertifikat Kesehatan Tumbuhan Antar Area) dari daerah asal. Berdasarkan pemeriksaan fisik dan visual, daun cincau dalam kondisi sehat, bebas dari OPT/OPTK sehingga dapat dibebaskan dan diterbitkan Sertifikat Pelepasan (KT-9),” terang Pejabat Karantina yang melakukan pemeriksaan.

Dan menjadi salah satu tupoksi Karantina Pertanian Karimun untuk memastikan komoditas pertanian yang masuk wilayah Karimun bebas dari OPT/OPTK.

)***

Komentar