Jakarta ! Uritanet —
Industri film Indonesia tengah memasuki babak baru yang tidak sekadar mengejar angka penonton atau keutungan komersial, melainkan memperjuangkan kesetaraan yang nyata. Dalam gelaran hari kedua Pekan Diskusi Film Indonesia di Pusat Perfilman Nasional (PFN) Heritage Jakarta, Selasa (12/8/2026), ruang dialog terbuka lebar menegaskan satu pesan krusial: ekosistem sinema tanah air harus inklusif—baik di depan layar, di balik kamera, hingga di kursi penonton.
Diskusi bertajuk “Membangun Perfilman yang Inklusif” yang menjadi rangkaian Kreatif Merdeka Carnival 2026 ini menghadirkan sudut pandang mendalam dari lintas sektor. Para narasumber yang hadir meliputi Sutradara film Teman Tegar Maira Anggie Frisca, perwakilan Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Drs. Gufron Sakaril, Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND) Dr. Dante Rigmalia, serta Pendiri Inklusi Film Indonesia Budi Sumarno.

Lebih dari Sekadar Karakter: Pelibatan Aktif dari Pra hingga Pascaproduksi
Forum tersebut menggarisbawahi bahwa inklusivitas tidak boleh berhenti sebagai pemanis cerita atau representasi visual belaka. Lebih jauh, penyandang disabilitas harus berpartisipasi penuh dalam seluruh rantai produksi film, mulai dari pengembangan ide, penulisan skenario, proses pengambilan gambar, hingga tahap pascaproduksi.
Perwakilan PPDI, Drs. Gufron Sakaril, menegaskan pentingnya membangun rantai kerja yang ramah difabel sejak awal. Menurutnya, keterlibatan aktif ini membuka peluang karir profesional yang adil di berbagai lini industri kreatif.
“Kita membutuhkan ekosistem inklusif untuk film di setiap tahap: praproduksi, produksi, pascaproduksi, hingga film tersebut hadir di bioskop. Penyandang disabilitas bukan sekadar objek cerita, melainkan subjek yang berhak berpartisipasi sebagai pemeran, penulis skenario, kru, sutradara, hingga produser dengan hak ekonomi dan standar honorarium yang setara,” ujar Gufron.
Pandangan senada disampaikan oleh Founder Inklusi Film Indonesia, Budi Sumarno. Ia menjelaskan bahwa sebuah film tidak harus selalu bertema disabilitas untuk dapat menerapkan prinsip inklusif.
“Film bertema umum pun sangat bisa melibatkan teman-teman disabilitas berdasarkan keahlian dan kapasitas profesional yang mereka miliki. Inklusivitas adalah soal memberikan kesempatan yang setara atas dasar kompetensi,” kata Budi.
Aksesibilitas Konten dan Fasilitas Fisik yang Ramah
Selain keterlibatan pekerja film, aksesibilitas karya audiovisual bagi penonton juga menjadi sorotan utama. Budi Sumarno menekankan perlunya penyediaan takarir aksesibel (Subtitles for the Deaf and Hard of Hearing / SDH) bagi penonton tuli, serta fitur Audio Description (AD) bagi penonton tunanetra. Penyusunan narasi deskripsi audio ini idealnya dirancang sejak tahap pengembangan cerita dengan melibatkan sineas dan komunitas disabilitas secara langsung.
Sementara itu, Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND) Dr. Dante Rigmalia menegaskan bahwa hambatan kedisabilitasan sering kali timbul karena lingkungan yang tidak menyediakan aksesibilitas yang memadai.
“Film memiliki kekuatan besar untuk mengedukasi, menyadarkan masyarakat, dan mengeliminasi stigma negatif. Namun, kekuatan itu baru sempurna jika bioskop menyediakan aksesibilitas fisik yang ramah—seperti jalur kursi roda—serta penyesuaian media bagi seluruh spektrum penonton,” tutur Dante.
Dante juga mendorong sosialisasi panduan produksi film inklusif secara masif kepada para sineas agar proses pembuatan film senantiasa mendengarkan suara dan pengalaman autentik dari penyandang disabilitas itu sendiri.
Sinema sebagai Medium Edukasi dan Transformasi Sosial
Dari kacamata kreator, Sutradara Teman Tegar, Maira Anggie Frisca, menilai karya film berpotensi menjadi sarana pendidikan karakter di sekolah-sekolah guna mencegah perundungan (bullying) sejak dini. Ia berharap forum diskusi perfilman inklusif semakin banyak melibatkan masyarakat non-disabilitas agar empati dan pemahaman kolektif terus terbangun.
“Isu disabilitas bukan cuma soal tema, melainkan bagaimana teman-teman penyandang disabilitas menjadi bagian utuh dari ekosistem film Indonesia. Kehadiran masyarakat non-disabilitas dalam dialog-dialog seperti ini sangat penting agar kesadaran itu tumbuh bersama,” ungkap Anggie.
Wacana sinema inklusif di PFN Heritage Jakarta ini melampaui batas diskusi seni belaka; ini adalah panggilan tindakan (call to action) bagi seluruh pelaku industri perfilman nasional.
Ketika ruang karya dibuka selebar-lebarnya tanpa diskriminasi, film tidak lagi sekadar menjadi panggung hiburan layar lebar, melainkan menjelma menjadi kompas moral bangsa yang meruntuhkan tembok stigma dan menegakkan martabat kemanusiaan.
Layar perak Indonesia tidak boleh lagi membisu; saatnya setiap karya merayakan keberagaman dan merangkul semua jiwa tanpa terkecuali!
)**Tjoek / Foto Ist.
