Jakarta ! Uritanet.com –
Komitmen memperkuat ekonomi koperasi berbasis aset dan kolaborasi nyata kembali ditunjukkan oleh Koperasi Forum Purnawirawan Pejuang Indonesia (FPPI) Kalimantan Timur melalui kunjungan balasan ke lahan strategis milik Koperasi Otoritas Bandar Udara Wilayah VII (KOBU VII) seluas kurang lebih 7,2 hektare.
Kunjungan ini menjadi tindak lanjut langsung atas kunjungan kerja Kepala Otoritas Bandar Udara Wilayah VII beserta jajaran ke pabrik pupuk dan kawasan perkebunan yang dikelola FPPI Kalimantan Timur sebelumnya, sekaligus menegaskan kesinambungan komunikasi dan keseriusan kedua belah pihak dalam membangun sinergi usaha berbasis koperasi.
Rombongan FPPI Kalimantan Timur dipimpin langsung oleh Ketua FPPI Kalimantan Timur, S. Wahyudi, yang akrab disapa Wahyu, bersama jajaran pengurus dan tim teknis. Kehadiran mereka disambut oleh perwakilan KOBU VII, Tarmadi, serta pengurus koperasi Hardi Kesuma Atmaja beserta jajaran.
Peninjauan lapangan dilakukan secara menyeluruh dengan tujuan utama melihat kondisi faktual lahan, mengidentifikasi potensi pengembangan, serta memahami karakteristik aset yang dimiliki KOBU VII sebagai dasar penjajakan peluang pemanfaatan dan kerja sama usaha jangka panjang.
Dalam kegiatan tersebut, FPPI menerima pemaparan terkait profil aset, luasan area, kondisi eksisting lahan, hingga gambaran awal rencana pemanfaatan yang diarahkan pada peningkatan nilai tambah ekonomi dan keberlanjutan kerja sama antarkoperasi.
Lahan seluas 7,2 hektare ini dinilai memiliki posisi strategis dan potensi besar untuk dikembangkan menjadi kawasan usaha produktif terpadu, terutama di sektor pertanian terintegrasi, peternakan, serta perikanan yang dikelola dengan prinsip berkelanjutan dan berorientasi pada kemandirian koperasi.
Diskusi intensif turut mewarnai kunjungan tersebut, mencakup konsep pengelolaan lahan, model bisnis terpadu, serta skema kolaborasi realistis yang memungkinkan untuk diterapkan sesuai kapasitas dan kebutuhan masing-masing koperasi.
FPPI Kalimantan Timur juga memaparkan pengalaman konkret dalam mengelola berbagai unit usaha produktif yang telah berjalan, sebagai referensi dan bahan pertimbangan strategis dalam perencanaan pengembangan aset KOBU VII ke depan.
Kunjungan balasan ini diharapkan menjadi fondasi awal perumusan kerja sama yang saling menguatkan, sekaligus menjadi pijakan kajian strategis dalam optimalisasi aset koperasi agar mampu meningkatkan kontribusi pendapatan, memperluas manfaat bagi anggota, dan menjaga kesinambungan organisasi.
Pada akhirnya, sinergi ini bukan sekadar pertemuan antar pengurus koperasi, melainkan langkah nyata menyatukan aset, pengalaman, dan visi besar demi membuktikan bahwa koperasi yang dikelola dengan strategi, integritas, dan kolaborasi mampu menjadi kekuatan ekonomi yang berdiri tegak, berdaya saing, dan tak tergoyahkan.
)**Git / Tjoek / Foto Ist

