Jakarta ! Uritanet.com –
Indonesia bukan hanya rumah bagi hutan hujan tropis terbesar di Asia Tenggara, tetapi juga menjadi benteng terakhir bagi primata paling terancam di dunia. Fakta ini semakin relevan bagi masyarakat Indonesia saat memperingati Hari Primata Indonesia 2026, yang jatuh setiap 30 Januari.
Berdasarkan Mammal Diversity Database 2025, Indonesia menempati peringkat ketiga dunia sebagai negara dengan keragaman primata tertinggi. Tercatat 66 jenis primata, atau setara 12,8 persen populasi primata dunia, hidup di Indonesia. Primata tersebut tersebar di Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi. Papua dan Kepulauan Maluku tidak memiliki satwa primata alami.
Namun, kekayaan hayati ini berada di ujung tanduk. IUCN Red List mencatat sebagian besar primata Indonesia berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Sebanyak 12 jenis berstatus Critically Endangered, 25 jenis Endangered, dan 26 jenis Vulnerable. Artinya, mayoritas primata Indonesia sedang berjalan menuju kepunahan jika tidak ada tindakan nyata.

Dari sisi perdagangan internasional, sebagian besar primata Indonesia masuk dalam Appendix I dan II CITES. Appendix I melarang perdagangan komersial karena statusnya yang sangat terancam punah. Appendix II mengatur perdagangan secara ketat agar eksploitasi tidak berlebihan. Di tingkat nasional, 37 jenis primata telah ditetapkan sebagai satwa dilindungi melalui Peraturan Menteri LHK Nomor P.106 Tahun 2018.
Situasi ini semakin diperjelas melalui laporan Primates in Peril 2023–2025, yang dirilis oleh IUCN SSC Primate Specialist Group, International Primatological Society, dan Re:wild. Laporan tersebut menetapkan empat primata Indonesia sebagai yang paling terancam di dunia dan membutuhkan tindakan konservasi segera.

Orangutan Tapanuli, Primata Kera Besar Paling Langka di Dunia
Orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) hanya hidup di Hutan Batang Toru, Sumatera Utara. Populasinya diperkirakan hanya 577–760 individu. Habitatnya terfragmentasi dalam tiga blok hutan yang terus tertekan oleh aktivitas manusia. Statusnya Critically Endangered, masuk Appendix I CITES, dan dilindungi penuh oleh negara.
Simakobu, Penjaga Hutan Mentawai yang Terancam Hilang
Simakobu (Simias concolor) adalah primata endemik Kepulauan Mentawai. Populasinya telah menurun hingga 75 persen sejak 1980. Deforestasi dan perburuan membuat jumlahnya kini hanya tersisa 6.700–17.300 individu. Simakobu berstatus Critically Endangered, Appendix I CITES, dan satwa dilindungi.
Lutung Sentarum, Primata Langka yang Hampir Tak Terlihat
Lutung sentarum (Presbytis chrysomelas) kini hanya bertahan di sekitar 5 persen sebaran historisnya. Populasinya diperkirakan tinggal 200–500 individu. Meski telah dikategorikan Critically Endangered oleh IUCN, lutung ini belum masuk daftar satwa dilindungi Indonesia, sebuah celah serius dalam upaya konservasi nasional.
Tarsius Sangihe, Primata Nokturnal di Ambang Kepunahan
Tarsius sangihe (Tarsius sangirensis) hanya ditemukan di Pulau Sangihe. Dengan populasi sekitar 464 individu, primata bermata besar ini berstatus Endangered dan dilindungi oleh pemerintah Indonesia. Hilangnya habitat menjadi ancaman utama keberlanjutannya.
Menanggapi kondisi tersebut, Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna, menegaskan bahwa primata memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis. Primata berfungsi sebagai penyebar biji alami, pengendali serangga, dan indikator kesehatan ekosistem. Tanpa primata, regenerasi hutan akan lumpuh secara alami.
Ancaman terbesar terhadap primata Indonesia saat ini berasal dari deforestasi masif, alih fungsi lahan, perburuan, dan perdagangan satwa liar ilegal. Fragmentasi hutan mengisolasi populasi primata dan meningkatkan konflik dengan manusia. Pemerintah telah menjalankan berbagai program konservasi, mulai dari patroli habitat, rehabilitasi, pelepasliaran, hingga edukasi publik.
Menurut Dolly, Hari Primata Indonesia harus menjadi momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi pentahelix, yang melibatkan akademisi, dunia usaha, komunitas, pemerintah, dan media. Kolaborasi ini dinilai penting untuk menghadirkan solusi inovatif dan berkelanjutan bagi perlindungan primata dan habitatnya.
Hari Primata Indonesia yang diprakarsai oleh PROFAUNA setiap 30 Januari menjadi pengingat bahwa kepunahan primata bukan ancaman jauh di masa depan, tetapi krisis yang sedang berlangsung hari ini.
Ketika primata hilang dari hutan Indonesia, yang punah bukan hanya satwa, melainkan keseimbangan alam dan warisan kehidupan bangsa. Menyelamatkan primata berarti menyelamatkan masa depan hutan, dan pada akhirnya, menyelamatkan manusia itu sendiri.
)**Tjoek / Foto Ist

