Dian Istiqomah SKep, Anggota Komisi IX DPR RI : Cegah Stunting itu Penting dan Harus, Menuju Indonesia Emas 2045

Share Article :

Uritanet, Lampung Selatan –

Dalam kegiatan ini, kita yang hadir berbagi ilmu, memberikan ilmu, mengedukasi masyarakat, memberikan ilmu masyarakat. Biar masyarakat tambah pintar dan stunting di Indonesia ini turun. Karena mencegah stunting itu penting dan mencegah stunting itu harus, demikian ditegaskan Dian Istiqomah SKep, Anggota Komisi IX DPR RI yang hadir dalam Sosialisasi dan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) Program Bangga Kencana Bersama Mitra, berlokasi di Lapangan Volley Dusun Ujau, Desa Rajabasa, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan (25/9).

Kegiatan Sosialisasi dan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) Program Bangga Kencana Bersama Mitra ini pun turut dihadiri Intan Anissa Fitri, S.Sos selaku Ketua Tim Kerja Ketahanan Remaja Perwakilan BKKBN Provinsi Lampung, dan Budi Setiawan staff Menteri Zulkifli Hasan, sekaligus selaku LO Putri Zulkifli Hasan, serta Bella selaku tuan rumah kegiatan ini.

Terkait pencegahan Stunting ini, maka kita hidup itu harus ada rencana. Dan kita semua tahu, kita sedang menuju Indonesia Emas tahun 2045. Kita ini menuju 100 tahun Indonesia Merdeka yang sesungguhnya. Merdeka sudah tidak kekurangan pangan. Pekerjaan anak cucu kita terjamin. Kita enggak mau, kan, yang namanya pekerjaan di masa depan itu banyak orang asing yang bekerja. Malah anak cucu kita menganggur.

Nah, biar anak cucu kita ini bisa bekerja dengan baik, tentunya harus punya kepintaran, harus cerdas. Untuk menjadi cerdas bagaimana? Sama BKKBN itu diatur. BKKBN memberikan perencanaan kepada seluruh masyarakat Indonesia dari sebelum menikah, setelah menikah, hamil, hingga punya anak. Diurusin juga sama BKKBN.

“Ini yang harus kita perhatikan. Bisa menghasilkan anak-anak yang berkualitas, yang cerdas. Jadi, kalau anak lahir tahun ini, nanti 22 tahun mendatang, di tahun 2045, anaknya menjadi pinter. Tapi, semua ini bisa terjadi ketika bayi ini, adik kecil ini, sehat, tidak kekurangan gizi. Itu bisa terjadi. Tapi, kalau anaknya kekurangan gizi, tidak sehat, bisa nggak kira-kira? Sehingga kalau kita di tahun mendatang itu, pingin menghasilkan produk-produk manusia yang bagus, di awali dari hari ini,” jelas Dian Istiqomah Anggota Komisi IX DPR RI.

Dan dalam upaya mencegah potensi Stunting ini, kita semua mesti memahami kalau pemenuhan gizi itu paling penting. Karena pemenuhan Gizi itu tidak harus mahal, lanjutnya lagi.

“Kita menginginkan stuntingnya turun. Tidak cuma di angka turunnya. Tapi turun benar-benar turun. Kita harus turun benar-benar harus tahu. Jadi, saya tidak mengkhawatirkan adanya penambahan stunting di kemudian hari. Dan untuk menurunkan stunting ini tidak mahal, ” papar Dian Istiqomah.

Baca Juga :  Profesor Deby Vinski : Pahlawan Perempuan di Balik Transformasi Kesehatan

Jadi saya punya harapan besar di Lampung memang benar-benar akan bebas stunting. Meski stunting ini tidak bisa dengan sendirinya hilang. Kita semua harus bersama-sama. Gak bisa sendirian, BKKBN suruh kerja sendirian, Komisi IX suruh kerja sendirian, tidak bisa. Ibarat itu musuh, kita perangin sama-sama. Dan pasti kita menang.

Sementara itu, ditambahkan Intan Anisafitri S.Sos, selaku Ketua Tim Kerja Ketahanan Remaja Perwakilan BKKBN Provinsi Lampung, bahwa semua lintas sektor memang tengah fokus menangulangi Stunting. Yakni kondisi gagal tumbuh pada anak Baduta (bawah dua tahun) akibat kurang gizi yang lama dan berkepanjangan.

Dengan kata lain, gangguan tumbuh kembang anak akibat infeksi yang berulang (Stunting). Penyebabnya akibat kurang gizi secara kronis dan berulang dalam jangka waktu yang panjang.

“Jadi kurang gizi secara kronis dalam jangka waktu yang panjang. Sehingga menyebabkan tumbuh kembangnya tidak optimal dan tidak sesuai dengan standar kesehatan.Dan stunting tidak dapat disembuhkan,” ujar Intan Anisafitri S.Sos, selaku Ketua Tim Kerja Ketahanan Remaja Perwakilan BKKBN Provinsi Lampung.

Kita harus bersama sama mewaspadai bahaya stunting. Agar anak anak kita, cucu cucu kita terhindar dari stunting. Dimana patokannya stunting, bukan hanya sekedar pertumbuhannya si anak namun juga terkait perkembangan kemampuan otaknya.

Baca Juga :  Pertolongan Dokter Terawan Membuat Jessica Bersyukur Atas Kesembuhan Ibunya

Seperti diketahui, Perpres Nomor 72 Tahun 2021, mengatur antara lain mengenai: 1) strategi nasional percepatan penurunan stunting; 2) penyelenggaraan percepatan penurunan stunting; 3) koordinasi penyelenggaraan percepatan penurunan stunting; 4) pemantauan, evaluasi, dan pelaporan; dan 5) pendanaan.

Dan Kepala BKKBN Pusat Hasto Wardoyo ditunjuk oleh Presiden Jokowi sebagai Ketua Pelaksana Percepatan Penurunan Stunting. Karena stunting ini kondisinya sudah sangat darurat sekali.

Sebagai catatan, bahwa kini angka prevansi stunting di Indonesia tidak turun. Sementara pada 1000 HPK sudah sangat sangat diawasi oleh pemerintah. Sudah menjadi fokus perhatian pemerintah, dari Kementerian Kesehatan. Mengapa ini terjadi?

Karena kita lupa, bahwa kita punya anak anak remaja yang sudah Akil baliq dan menstruasi. Dimana mereka calon calon orang tua di masa depan, ujar Intan Anisafitri S.Sos.

Masa masa dimana kita kerap melepas perhatian terhadap anak anak remaja kita ini terkait kesehatannya. Mereka tidak saja calon orang tua, namun juga calon pasangan usia subur. Sehingga pencegahan stunting dimulai dari hulunya yakni di 8000 HPK, yang itu berarti dari usia remaja.

Lantaran anak remaja jaman sekarang cenderung tidak peduli akan kesehatannya. Apalagi dengan maraknya makanan junk food atau makanan yang cenderung banyak karbonya. Belum lagi kalau sudah berhubungan dengan diet, yang lantas dialihkan dengan jajanan yang justeru nggak ada nutrisinya. Padahal makanan empat sehat lima sempurna yang dibutuhkan tubuh para remaja ini sangat mudah didapatkan di sekitar kita.

“Hal hal seperti inilah yang bakal memicu melahirkan anak yang stunting. Karena tubuh ibunya kekurangan Nutrisi, Vitamin dan Mineral yang memadai. Sehingga selama 9 bulan anaknya didalam kandungannya justeru menggerogoti dari tubuh ibunya yang kekurangan Nutrisi, Vitamin dan Mineral itu. Jadi pencegahan stunting kini dari remaja, dari hulu (8.000 HPK) bukan lagi dari 1.000 HPK (atau Ibu Hamil),” pungkas Intan Anisafitri S.Sos.

)***YuriAghnia/ Tjoek

Share Article :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *