Inilah Prioritas Kodam III Siliwangi Hadapi Tiga Tantangan di 2023 : Politik Identitas, Misinformasi, dan Hate Speech

Uritanet, –

Memasuki tahun 2023 sejumlah harapan dan semangat positif sudah terlihat, tetapi beberapa persoalan masih tetap harus diselesaikan. Keduanya berkelindan, sebuah dinamika alamiah dalam rantai kehidupan bermasyarakat. Apalagi di 2024 adalah masanya pesta demokrasi, pemilu menentukan pemimpin bangsa. Riuh rendah politik akan menabuhkan genderangnya di 2023 ini.

Jawa Barat sebagai provinsi terpadat dan wilayah penuh kreativitas, termasuk juga daerah magnet bagi penduduk lain, mengalami hal sama. Pertumbuhan ekonomi kreatif terus menggeliat seiring pandemi sudah dianggap berlalu. Walau di pengujung 2022 didera bencana, namun optimisme harus tetap ada, sembari bersiap menjalani dinamika lain di 2023.

Gubernur Lemhannas (Andi Widjajanto, 2022) sudah memprediksi bahwa ada tiga aspek tantangan penting yaitu politik identitas, misinformasi, dan hate speech (ujaran kebencian). Tiga hal ini akan mendominasi di tahun ini,yang disebabkan oleh pertarungan politik pada 2024. Sementara dari sisi ekonomi,Sri Mulyani sudah memprediksi bahwa kisruh Rusia- Ukraina tetap jadi momok yang berefek pada rantai pasokan dan distribusi energi serta sumber daya alam di seluruh dunia.

Resesi global masih menghantui, inflasi bisa jadi meningkat. Efeknya adalah pada stabilitas ekonomi, sosial, dan politik. Artinya, tantangan ke depan tak jauh dari soal politik, energi, dan termasuk ketahanan pangan. Jawa Barat, sekali lagi adalah daerah yang perlu bersiap-siap. Ini adalah wilayah kunci, penyangga pusat kekuasaan, sekaligus barometer stabilitas ekonomi nasional.

Tiga aspek di atas (Politik, Energi, Ketahanan Pangan) menjadi perhatian serius, termasuk pada jajaran Kodam Siliwangi, lembaga pertahanan negara terdepan di Bumi Sangkuriang ini. Karena itu, fokus Kodam Siliwangi di tahun ini terpatri pada dua aspek yaitu penguatan secara nyata pada basis dan memastikan profesionalitas prajurit di tataran internal. Keduanya akan berinteraksi dalam satu rantai tak terpisahkan.

Lantas apa yang harus dipersiapkan?

Pertama, mengangkat dan melakukan legalisasi terhadap semua potensi dan kreativitas yang sudah dilakukan baik oleh masyarakat ataupun prajurit. Kenapa ini penting? Tahun 2022 kita sudah mendorong ragam inovasi di semua sektor,banyak yang muncul dan memang sangat potensial.

Tahun ini, semua harus memiliki kekuatan secara hukum,legalitas, pengakuan negara terhadap hak kekayaan intelektual. Masyarakat yang sudah mematenkan kekayaan intelektualnya akan memiliki rasa percaya diri kuat dan secara hukum dilindungi. Riuh rendah politik, pertarungan wacana,sebaran hoaks akan bisa diminimalisasi jika masyarakat sudah memiliki rasa percaya diri pada kekuatannya sendiri. Ini berkorelasi dengan tindakan “Aksi Nyata”.

Publik akan bisa menegaskan kekuatannya dengan berkata, “Anda boleh bicara apa saja, tapi apa kiprah nyata yang sudah dilakukan?” Kita melihat bahwa publik punya kemampuan dan banyak inovasi sudah dibuat,mulai dari siasat mengatasi kesulitan energi,pangan,pendidikan, ekonomi,dan sebagainya. Semua potensi itu kita angkat dan fasilitasi. Kedua,optimalisasi program ketahanan pangan.

Ini berlanjut dari program kekayaan intelektual. Sektor pangan akan jadi sangat penting karena ini kebutuhan dasar,sementara resesi global sudah menghadang. Lahan-lahan terlantar, kritis,atau bermasalah secara sosial dan bahkan hukum, kita coba jembatani. Ajaklah masyarakat untuk percaya diri,kembangkan inovasi,tapi tetap ramah lingkungan.

Kretivitas pada level UMKM difasilitasi dan di dorong secara maksimal. Perkuat yang lemah,dan fasilitasi. Mereka mampu,tapi mereka membutuhkan kehadiran negara di aktivitasnya. TNI yang memandang rakyat adalah basis,harus masuk ke ranah itu.

Program “Maung Benahi Lahan” adalah salah satu wujud nyata,kebun jagung adalah konkretnya,dan teknologi terapan sebagai fasilitasnya. Ketiga, mewujudkan ketahanan energi berbasis masalah. Apa suplai terbesar Jawa Barat yang selama ini tak terkelola dengan baik? Itulah sampah. Laporan opendata dari Pemrov Jawa Barat menyebutkan indeks kulitas air hanya di posisi 43,09. Penyumbang terbesar adalah sampah,dan sumbangan sampah terbesar adalah sampah makanan.

Ini problem yang wajar pada daerah dengan populasi besar. Cara terbaik untuk mengatasi masalah ini adalah pembenahan di hilir dan penyadaran ke hulu. Ke hilir solusinya adalah teknologi terapan,memaksimalkan potensi sampah menjadi bahan berguna,salah satunya jadi energi. Di hulu sadarkan dan ingatkan serta fasilitasi masyarakat agar disiplin dalam pengelolaan.

Jejaring Kodam Siliwangi,tentunya mampu melakukan ini. Teknologi sudah ada, tinggal kita luaskan dan maksimalkan,bentuk komunitas, jaga dan kawal,serta dampingi. Berhasilkah? Harus optimis. Keempat, profesionalitas prajurit adalah mutlak. Prajurit adalah garda pertahanan terdepan. Mereka tidak hanya bicara soal tempur ala militer, tapi juga “bertempur” dengan masalah di masyarakat. Prajurit profesional adalah prajurit yang memiliki moral, semangat pengabdian dan disiplin tinggi, bertanggung jawab serta menjunjung tinggi kehormatan militer.

Kualitas personal dan kesatuan akan selalu ditingkatkan,diperkuat sesuai kondisi kekinian. Pola konvensional yang berpadu dengan tantangan era digital. Oleh karena itu,modernisasi segala aspek baik sarana prasarana, termasuk modernisasi pola berpikir akan ditanamkan. Kendati berada di tahun politik,tapi TNI tidak berpolitik. TNI hanya mengikuti dan mengawal politik yang sudah ditetapkan oleh negara.

Untuk itu, jangan sampai ada yang mengotak atik dan memprovokasi. Kodam Siliwangi untuk wilayah Jawa Barat akan serius mengawal ini. Akhirnya, sebagaimana ditekankan oleh Gubernur Lemhannas maka tiga tantangan besar (politik identitas, misinformasi, hate speech), bisa diminimalisasi.

Kita percaya, jika publik sudah sibuk dengan urusan domestiknya sendiri, akan kuat dengan sendirinya. Gaduh-gaduh politik biarlah selesai di ranah politik, tapi gaduh- gaduh soal ekonomi, pangan, lingkungan, itu adalah urusan kami.

)***Oleh Mayjen TNI Kunto Arief Wibowo

 

 

Comment