Ekspedisi Samawe 30 Gunung dan Desa Adat, Kick Off 26 Mei Gunung Leuser, Menparekraf Harapkan Hidupkan Pariwisata Indonesia

URITANET – Raden Bambang Adi Wijaya, salah satu founder Samawe Adventure sekaligus pendaki utama dalam Ekspedisi 30 Summits, menjelaskan kickoff dilakukan 26 Mei mendatang dengan pendakian pertama di Gunung Leuser, Aceh. Selanjutnya menuju Singgalang-Merapi, Kerinci, terus Dempo di Palembang. Etape kedua memasuki gunung-gunung  di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Lalu etape ketiga gunung di wilayah Sulawesi, Kalimantan, Ambon, dan Papua, paparnya.

Oleh karenanya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno, memberikan dukungannya buat kegiatan pendakian Ekspedisi 30 Summit di Indonesia sebagai ikhtiar menghidupkan pariwisata di Indonesia.

“Saya mengucapkan dan mendukung kegiatan anak bangsa bernama Samawe Adventurre, yakni Ekspidisi 30 Summit, perjalanan 30 gunung,” kata Sandiaga di Jakarta (18/4).

Sandi mengapresiasi kegiatan yang di disajikan dalam karya dokumenter berisi eksplorasi keindahan alam serta kearifan budaya dan beragam Desa Adat di Indonesia.

Sekaligus mendukung positif destinasi baru pariwisata di negeri kita. Semoga usaha ini dilancarkan oleh yang Maha Kuasa. Kami memberikan semangat dan motivasi agar kegiatan ini bisa membawa kemaslahatan buat bangsa Indoensia, harap Sandiaga Uno.

Ekspedisi ini berdurasi waktu sekitar 11 bulan, terdiri tiga etape pendakian dan pendakian dilakukan oleh enam orang (dua pendaki utama, dua pendaki lokal, serta dua orang videografer). Awe mengatakan di setiap puncak gunung diniatkan dapat menuntaskan satu juzz Alquran.

Harry ‘Koko’ Santoso, pemerhati seni dan budaya, menegaskan bahwa  ketahanan air negeri ini ada di gunung. Air menjadi sumber kehidupan, bahkan akhir-akhir ini malah air menjadi musibah bagi sebagian saudara-saudara kita di tanah air.

Ini tentu menjadi yang mendorong kita untuk menjadi bagian semangat Samawe agar kedepan negeri ini air menjadi berkah dan bukan menjadi musibah, itu adalah awalnya.

Jadi hari ini kita berkumpul untuk menjaga gunung dan menjaga ketahanan air negeri ini, menjaga Ketahan Air dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote dimulai oleh Samawe.

Disisi lain, kegiatan semacam ini sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan rasa kebangsaan dan persatuan di negeri ini. Menguatkan solidaritas dari seluruh anak bangsa.

Pendakian ini memberikan pesan kuat bahwa generasi muda itu harus berani berjuang, bersusah payah tetapi memiliki tujuan untuk menuju puncak. Inilah filosofi mendasar dari kegiatan ini, ujarnya.

Bagi Awe, tidak hanya gunung, Ekspedisi Samawe 30 Summit juga membahas tentang leterasi Desa Adat, Kultur, Budaya, Kesenian di desa desa setempat yang nantinya bisa menjadi nilai ekonomi buat masyarakat setempat.

Sekaligu kegiatan ini sangat berpontesi untuk membuka pariwisata destinasi baru di Indonesia tentunya tentang Gunung, Desa Adat, Desa Wisata dan sekitarnya.

Literasi – literasi tersebut dalam bentuk dokumentasi, video jurnal, dan buku. Jadi ada video vlog yang berbicara tentang Gunung dan Desa Adatnya, vlog perdestinasinya, bahkan nanti ada video dayly vlog membahas event adat dan akan live di YouTube channel Samawe.

Adapun 2 buku yang dimsksud, pertama jurnal perjalanan. Kedua adalah jurnal panduan wisata dimana yang akan berisi informasi ketika orang ingin naik gunung seperti transportasi, maping, track jalurnya dan sebagainya.

Buat Octa Carolina, finalis Asia Pop di Jepang bahwa dirinya hanya mampu menyemangati Ekspedisi 30 Summits Samawe lewat lagu Doa Indonesia Raya karya Didit T.Hidayat. Octa percaya Indonesia itu harus bersemangat apapun yang terjadi. Dan untuk Samawe, ini ekspedisi yang keren banget kegiatannya.

Sementara bagi Citra Utami, analis keuangan, meski belum pernah mendaki gunung namun diakuinya dirinya seorang yang mengagumi keindahan Indonesia. Indonesia sangat kaya dengan keindahan alamnya seperti ada Gunung, Laut, Pantai. Dan gunung di Indonesia ini sangat banyak sekali dan saya ingin sekali naik gunung walaupun hingga saat ini belum kesampaian atau terlaksana, tetapi tetap berharap nanti bisa terlaksana naik gunung.

Dirinya pun mengapresiasi apa yang dilakukan oleh kawan-kawan Samawe Adventure baik sudah berjalan sekarang dan nantinya. Sekaligus dirinya mendukung dan mengajak generasi muda untuk menjaga dan melestarikan keindahan alam Indonesia, khususnya gunung.

Semoga akan ada beberapa konser-konser di gunung-gunung atau di desa-desa sekitar gunung itu. insyaallah dirinya pasti akan hadir.

Sedangkan bagi Ida Bagus Charma, sejak tahun 60-an salah satu kurikulum dirinya adalah mendaki gunung. Tanpa mendaki gunung kita tidak akan lulus sekolah. Seperti di Bali itu ada Gunung Agung, Gunung Batur, dan Gunung Batu Karung, dimana ketiganya itu harus di lakukan pendakiannya.

Soal mendaki gunung dirinya sudah mengalaminya, tapi hanya sebagai hobby, kurikulum, tetapi bukan sebuah pekerjaan seperti anak-anak Samawe.

Ida Bagus Charma melihat Ekspedisi 30 Summit Samawe  sangat luar biasa dan harus kita dukung. Yakni bagaimana kita mengkolaborasikan otak kanan kita untuk sesuatu yang lebih maju lagi. Kurikulum ini mempermudah pelajaran kita yang lain di sekolah.

Kita tidak hanya belajar saja dimeja, tetapi kita harus keluar ruang. Justru kegiatan luar ruang itu sangat bagus sekali dan diutamakan.

Ketika kita mendaki sampai ke puncak lalu duduk disana kita bisa melihat kebawah dan melihat keatas maka dari situ kita akan mendapat pandangan yang sangat luas di otak kita dan akan memberi inspirasi kepada diri kita.

Seperti saat diminta membuat Festival Gunung Batur (di era Kemenpar Jero Wacik, red). Saya justru memiliki pemikiran lain, kenapa kita tidak membuat suatu Geopark saja, yang saat itu SOP – nya sudah diterbitkan oleh UNESCO.

Geopark itu adalah suatu SOP yang harus dijalankan pada siapa saja yang menyangkut soal gunung itu. Harus standart Geopark itu sendiri. Geopark itu punya peraturan seluruh dunia dan diakui oleh UNESCO.

Jadi saya justru menyiapkan proposal untuk Geopark Gunung Batur, karena cultur dan pemandangannya sungguh sangat luar biasa, jelas Ida Bagus Charma.

Keanekaragaman Indonesia, keanekaragaman hayati dan culture kita harus dikembangkan dalam pendakian ini nanti, karena nanti akan menyangkut masyarakat yang tinggal di daerah itu. Geopark itu sendiri sebenarnya adalah bagaimana mengembangkan geotourism itu sendiri dan membangun ekonomi, serta tourism itu sendiri.

Hingga sekarang baru tumbuh 6 Geopark di Indonesia. Padahal di Indonesia ini memiliki 40 tempat potensial Geopark yang diakui. Berarti di Indonesia ini banyak obyek wisata yang bisa dinikmati para turis yang akan mengembangkan ekonomi masyarakat di sekitar tempat itu.

Buat Ekspedisi 30 Summits Samawe, akan banyak berkah yang akan didapat dalam mendaki gunung itu. Banyak sekali. Karena Tuhan menciptakan segala sesuatunya itu agar kita bisa mengikuti alur-alurnya, bukan melawan dimana bila kita melawan akan sakit.

Kita perlu dukung Samawe Adventure karena memiliki semangat yang luar biasa. Dan kedepannya akan kita dukung ke pemerintah agar ada payung hukumnya untuk mendukung hal seperti ini agar tidak sia-sia mendaki gunung, turun gunung tidak ada apa-apanya.

Geopark itu tidak boleh dilanggar, dimana kedepannya akan terbentuk sosiokapitalisem dimana bukan kapitalis yang akan menguasai itu tetapi masyarakat lokalnya yang dimajukan. Jadi kapitalis boleh mengikuti dibelakangnya, ujar Ida Bagus Charma memberi pesannya.

Dan berdasarkan catatan akhir, dari Ananda Sukarlan, seorang tokoh muda berpengaruh di bidang musik dunia, mengingatkan Ekspedisi 30 Summits Samawe akan pentingnya diplomasi, seperti yang dilakukannya melalui Seni, Budaya dan Sejarah, dengan melibatkan Kedutaan Besar Italy dan Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Menjelajahi Labuan Bajo, Danau Toba, Situs Sriwijaya di Jambi, Danau Kelimutu, hingga Gunung Botak Manokwari Papua.

Dengan kata lain, dibutuhkan pula cara cara diplomasi yang cerdas dan strategis agar kita bisa menyuarakan kepedulian ini terhadap bangsa. Mengembangkan nilai nilai sejarah dan budaya. Memperkenalkan Indonesia lewat budaya. Sebuah hal yang bisa dilakukan pula oleh Ekspedisi 30 Summits Samawe ini.

(**jegegtantri

Komentar