United Tractors Dorong Transformasi Bisnis, Fokus pada Emas, Nikel, dan Mineral Strategis

Pelaksanaan paparan publik yang dilakukan oleh PT United Tractors Tbk yang dilakukan secara daring.
Bagikan ke orang lain :

Uritanet – Jakarta, 7 September 2026 — PT United Tractors Tbk (UT) terus memperkuat portofolio bisnis pertambangan mineral melalui pengembangan komoditas emas dan nikel. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi diversifikasi Perseroan di tengah perkembangan industri pertambangan dan meningkatnya kebutuhan terhadap mineral strategis.

Pada bisnis pertambangan emas, kegiatan operasional UT dijalankan melalui PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya. Hingga Juli 2026, kedua entitas tersebut mencatatkan total penjualan setara emas sebesar 32 ribu ons.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 143 ribu ons. Perubahan volume penjualan ini menjadi salah satu perkembangan yang perlu diperhatikan dalam kinerja bisnis pertambangan UT sepanjang 2026.

Penjualan Bijih Nikel Capai 973 Ribu WMT

Di sektor nikel, UT melalui PT Stargate Pacific Resources mencatatkan penjualan bijih nikel sebesar 973 ribu wet metric ton (wmt) hingga Juli 2026.

Penjualan tersebut terdiri atas 316 ribu wmt saprolit dan 657 ribu wmt limonit. Kedua jenis bijih tersebut memiliki karakteristik dan pemanfaatan yang berbeda dalam rantai pasok industri pengolahan nikel.

Selain bisnis yang dioperasikan secara langsung, UT juga memiliki eksposur terhadap industri nikel melalui kepemilikan 20,13 persen saham Nickel Industries Limited (NIC).

NIC merupakan perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi dengan aset utama yang berlokasi di Indonesia. Kontribusi NIC kepada UT diakui untuk periode enam bulan sebelumnya berdasarkan kinerja NIC pada kuartal IV 2025 dan kuartal I 2026.

Dalam periode tersebut, operasional fasilitas Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) milik NIC membukukan penjualan nickel metal sebesar 61.622 ton.

Akuisisi Tambang Emas di Sulawesi Utara

Penguatan portofolio mineral UT juga dilakukan melalui aksi korporasi. Pada 11 Februari 2026, UT melalui anak usahanya, PT Danusa Tambang Nusantara dan PT Energia Prima Nusantara, menyelesaikan akuisisi 100 persen saham PT Arafura Surya Alam.

Arafura Surya Alam merupakan perusahaan pertambangan emas yang berlokasi di Sulawesi Utara. Akuisisi tersebut memperluas eksposur UT terhadap komoditas emas sekaligus menjadi bagian dari strategi Perseroan dalam mengembangkan bisnis pertambangan mineral di Indonesia.

Dengan penambahan aset tersebut, UT memiliki peluang untuk mengoptimalkan portofolio pertambangan sekaligus memperkuat posisi bisnisnya di sektor mineral strategis.

Buyback Saham Capai Rp7,1 Triliun

Di sisi pasar modal, UT juga menjalankan program pembelian kembali saham atau share buyback. Perseroan menyelesaikan program pembelian kembali saham yang berlangsung pada 1 April hingga 30 Juni 2026, dengan jumlah saham yang dibeli sebanyak 35,5 juta lembar.

Selanjutnya, UT menjalankan program pembelian kembali saham dengan nilai maksimal Rp2 triliun untuk periode 1 Juli hingga 30 September 2026.

Secara akumulatif, sejak Juli 2022 hingga 30 Juni 2026, UT telah melakukan pembelian kembali sebanyak 239 juta saham, dengan total nilai sekitar Rp7,1 triliun.

Program tersebut dilaksanakan dengan mengacu pada ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai pembelian kembali saham dalam kondisi pasar yang berfluktuasi.

Manajemen menyebut program buyback mencerminkan keyakinan terhadap prospek Perseroan dan kemampuan menghasilkan arus kas berkelanjutan. Langkah tersebut sekaligus diharapkan dapat mendukung upaya Pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar modal.

Mengembangkan Bisnis Berbasis Teknologi dan Keberlanjutan

Sebagai perusahaan yang telah beroperasi sejak 1972, UT awalnya dikenal sebagai distributor alat berat. Dalam perkembangannya, Perseroan memperluas bisnis ke sektor solusi pertambangan dan alat berat, termasuk pengelolaan aset pertambangan dan energi.

Transformasi bisnis tersebut turut mendorong UT untuk mengoptimalkan teknologi, kompetensi, keahlian, serta aset strategis yang dimiliki guna meningkatkan nilai tambah bagi pemangku kepentingan.

Di sektor pertambangan, perkembangan teknologi menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan efisiensi operasional, produktivitas, keselamatan kerja, serta pengelolaan lingkungan.

UT juga menempatkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai bagian dari pengembangan bisnis. Implementasinya mencakup perhatian terhadap aspek lingkungan, kontribusi sosial kepada masyarakat, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik di seluruh lini operasional.

Melalui penguatan bisnis emas dan nikel, ekspansi portofolio mineral, serta penerapan prinsip ESG, UT berupaya membangun model bisnis pertambangan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga mampu menciptakan nilai berkelanjutan bagi perusahaan dan masyarakat Indonesia.

**Benksu

Bagikan ke orang lain :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *