Uritanet – Jakarta, 19 Agustus 2026 — Tantangan industri logam Indonesia kini tidak lagi berhenti pada peningkatan kapasitas produksi bahan mentah dan pembangunan smelter. Persoalan yang semakin mendesak adalah bagaimana mengubah kapasitas tersebut menjadi produk bernilai tambah tinggi yang mampu memasok kebutuhan industri manufaktur dalam negeri.
Kebutuhan inilah yang menjadi salah satu fokus penyelenggaraan GIFA dan METEC Indonesia 2026, pameran teknologi pengecoran dan metalurgi yang akan berlangsung pada 9–12 September 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo), Jakarta.
Memasuki penyelenggaraan edisi ketiga, GIFA dan METEC Indonesia diperkirakan mempertemukan sekitar 260 perusahaan dan 6.000 pengunjung profesional dari berbagai sektor industri. Pameran yang diselenggarakan Messe Düsseldorf Asia bersama PT Pamerindo Indonesia, bagian dari Informa Markets, tersebut tidak hanya menampilkan teknologi produksi logam, tetapi juga mempertemukan pelaku industri di sepanjang rantai nilai, mulai dari bahan baku hingga manufaktur hilir.

Dari Hilirisasi ke Tantangan Produksi
Perkembangan investasi menunjukkan bahwa Indonesia tengah memasuki fase penting dalam pembangunan industri berbasis sumber daya mineral. Pada semester pertama 2026, subsektor logam dasar, barang logam, mesin, dan peralatan mencatat investasi US$8,44 miliar atau sekitar 14,9% dari total investasi nasional.
Di sektor bauksit, investasi hilirisasi pada kuartal kedua 2026 mencapai US$2,25 miliar, lebih tinggi dibandingkan investasi hilirisasi nikel sebesar US$1,65 miliar. Investasi hilirisasi bauksit tersebut juga disebut meningkat 193%.
Namun, bertambahnya investasi dan kapasitas produksi belum otomatis menyelesaikan persoalan industri. Setelah smelter dan fasilitas pengolahan beroperasi, tantangan berikutnya adalah memastikan material yang dihasilkan dapat diproses menjadi komponen dan produk manufaktur yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Managing Director Messe Düsseldorf Asia, Lars Wismer, menilai perkembangan tersebut menunjukkan perubahan arah industri Indonesia dari sekadar mengekspor sumber daya menuju pembangunan ekosistem industri yang lebih terintegrasi.
“Industrialisasi hilir Indonesia menciptakan kebutuhan baru akan teknologi, keahlian rekayasa, pengembangan keterampilan, dan kemitraan,” ujar Lars Wismer.
Karena itu, GIFA dan METEC Indonesia diarahkan menjadi ruang pertemuan antara kebutuhan industri domestik dan pemasok teknologi global.

GIFA dan METEC Menjawab Kebutuhan Teknologi
GIFA Indonesia akan membawa teknologi yang berkaitan dengan proses pengecoran logam, mulai dari peleburan, pembuatan cetakan dan coremaking hingga simulasi, otomasi, serta pengujian.
Sementara METEC Indonesia berfokus pada teknologi metalurgi dan produksi logam, termasuk besi dan baja, logam non-ferrous, tungku, refractory, pengerolan, pembentukan, pengendalian proses hingga rekayasa pabrik.
Kombinasi kedua pameran tersebut menjadi penting karena kebutuhan industri tidak berdiri sendiri. Peningkatan kapasitas produksi logam membutuhkan teknologi pengolahan, sistem pengendalian kualitas, otomasi, material handling hingga kemampuan manufaktur yang dapat mendukung proses hilir.
Ketua Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (GAMMA), Dadang Asikin, mengatakan industri pengerjaan logam dan permesinan nasional membutuhkan akses terhadap teknologi pemrosesan canggih, keahlian teknis, serta kemitraan internasional.
“GIFA dan METEC Indonesia menjadi pelengkap agenda hilirisasi Indonesia,” ujar Dadang.
Aluminium Jadi Titik Strategis Hilirisasi
Salah satu sektor yang mendapat perhatian khusus dalam penyelenggaraan tahun ini adalah aluminium. Untuk pertama kalinya, GIFA dan METEC Indonesia menghadirkan Aluminium Pavilion yang mempertemukan teknologi dan pelaku industri dalam rantai nilai aluminium.
Langkah tersebut relevan dengan peningkatan kapasitas industri aluminium nasional. Di Mempawah, Kalimantan Barat, pengembangan fasilitas mencakup rencana smelter aluminium primer berkapasitas 600.000 ton per tahun dan Smelter Grade Alumina Refinery Tahap II dengan kapasitas 1 juta ton alumina per tahun.
Sementara itu, kapasitas terpasang smelter aluminium Inalum disebut dapat mencapai 1,975 juta ton pada 2026. Angka tersebut jauh di atas kebutuhan domestik aluminium primer yang diperkirakan sekitar 520.000 ton per tahun.
Kondisi tersebut membuka pertanyaan strategis: ke mana tambahan kapasitas aluminium tersebut akan diarahkan?
Jawabannya terletak pada kemampuan industri hilir mengolah aluminium menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi, seperti lembaran, foil, ekstrusi, kawat, produk cor, hingga berbagai komponen manufaktur.
Aluminium Pavilion akan menampilkan teknologi peleburan, pengecoran, pengembangan paduan, fabrikasi, pemotongan presisi, daur ulang, pengolahan scrap, serta material handling. Sejumlah perusahaan yang berpartisipasi antara lain ABP Induction Systems GmbH, Foshan Diamond Technology Co., Ltd., dan Henan Tosta Machinery Co., Ltd.
“Aluminium berada di titik temu sejumlah prioritas industri Indonesia, termasuk hilirisasi, daya saing manufaktur, pembangunan infrastruktur, integrasi rantai pasok otomotif, serta transisi energi,” kata Lars Wismer.
Fokus Bergeser dari Membangun Kapasitas ke Menjamin Produksi
Perubahan paling penting yang dibidik melalui GIFA dan METEC Indonesia 2026 adalah pergeseran kebutuhan industri. Jika sebelumnya investasi banyak diarahkan pada pembangunan fasilitas dan peningkatan kapasitas, kini perhatian mulai bergeser pada bagaimana fasilitas tersebut menghasilkan produk secara efisien, konsisten, dan memenuhi standar industri.
Kebutuhan terhadap simulasi pengecoran, pengendalian mutu berbasis digital, peralatan fabrikasi, pemotongan presisi, otomasi dan material handling diperkirakan semakin meningkat seiring bertambahnya fasilitas produksi.
Bagi industri hilir dan original equipment manufacturer (OEM), kondisi tersebut juga membuka peluang membangun rantai pasok sejak awal, termasuk melalui kesepakatan pasokan dan jaminan mutu.
Sejumlah perusahaan nasional dan internasional telah menyatakan partisipasi, antara lain Wilisindomas Indahmakmur, CITEC Engineering Indonesia, Wintherm Bara, Metallurgical Corporation of China, Ashapura International, BEDA Oxygentechnik Armaturen, MAGMA Engineering Asia Pacific, KALFRISA, serta Zobon (Lianyungang) Metal Technology.
Country General Manager Pamerindo Indonesia, Lia Indriasari, mengatakan kehadiran teknologi internasional diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan industri Indonesia dengan solusi yang relevan.
“Dengan mendekatkan komunitas teknologi internasional yang relevan kepada industri Indonesia, kami bertujuan mendukung diskusi bisnis yang berbasis informasi mengenai produktivitas dan pengembangan rantai nilai,” ujar Lia.
Dengan demikian, GIFA dan METEC Indonesia 2026 tidak sekadar menjadi ajang pamer teknologi. Pameran ini hadir ketika industri logam Indonesia memasuki tahap yang lebih menentukan: memastikan investasi hilirisasi mampu bertransformasi menjadi kapasitas produksi nyata, produk manufaktur bernilai tambah, dan rantai pasok industri yang semakin kuat di dalam negeri.
**Benksu
