Karina Icha, SH: Dari Panggung Sinema hingga Menjadi Jawara Dialog Masa Depan Film Horor Indonesia

Bagikan ke orang lain :

Jakarta ! Uritanet.com —

Industri perfilman nasional terus menunjukkan geliat positif, khususnya pada genre horor yang kian mendominasi pasar domestik. Menjawab dinamika tersebut, Festival Horor Indonesia (FHI)—yang juga memasuki gelaran Festival Film Horor (FFH) episode ke-8 di PFN Heritage, Jakarta, Sabtu (13/8/2026)—hadir bukan sekadar sebagai ajang perayaan visual, melainkan ruang diskusi strategis untuk mendorong inovasi dan akselerasi kualitas sinema tanah air.

Ajang ini mempertemukan para pemangku kepentingan kunci dalam ekosistem sinema, mulai dari penulis skenario, pengamat film, hingga sutradara kawakan. Diskusi interaktif yang terbangun berfokus pada pemetaan potensi serta strategi adaptasi industri terhadap perkembangan teknologi dan selera penonton modern.

Menariknya, diskusi utama festival ini dipandu oleh sosok multidimensi: Karina Icha, SH. Perempuan kelahiran Enrekang, Sulawesi Selatan, 15 Mei 1994 ini dipercaya bertindak sebagai presenter sekaligus moderator.

Mempertemukan Industri dan Regenerasi Sineas Muda

Bagi Karina, partisipasinya dalam gelaran ini bukan sekadar menjalankan tugas di atas panggung, melainkan kesempatan untuk membaca kembali alur perjalanan sinema Indonesia. Tingginya minat masyarakat terhadap genre horor dinilainya sebagai modal besar yang harus diimbangi dengan peningkatan kualitas narasi, pemanfaatan teknologi modern, dan keberanian mencari gagasan baru.

“Festival Horor Indonesia memberikan wadah nyata untuk melahirkan inovasi baru agar film kita semakin maju. Menjadi sebuah kebanggaan dapat memandu diskusi antara para profesional dengan adik-adik SMA yang kelak meneruskan tongkat estafet perfilman Indonesia,” ujar Karina Icha, SH.

Keterlibatan generasi muda, khususnya para siswa tingkat SMA yang memiliki minat mendalam di bidang sinematografi, menjadi catatan istimewa tersendiri. Menurutnya, festival bukan hanya tempat mempertontonkan karya, melainkan ruang untuk menanamkan keberanian bermimpi.

“Keterlibatan mereka menegaskan komitmen industri dalam menjaga keberlanjutan tradisi dan regenerasi talenta masa depan,” tambahnya.

Kiprah Multidimensi di Luar Layar Lebar

Dunia hiburan memiliki banyak pintu, dan Karina Icha berhasil melangkah di hampir semuanya. Mengawali karier sebagai pemain film, perjalanan membawa sosok berlatar belakang hukum ini merambah dunia periklanan, pemodelan, hingga ajang kecantikan. Perjuangannya membuah hasil manis ketika ia dinobatkan sebagai Miss Celebrity International Ambassador 2025 pada 28 September 2025 lalu.

“Awalnya saya pemain film. Kemudian teman-teman menyarankan ikut ajang kecantikan. Saya mengikuti audisi sebagai perwakilan Sulawesi Selatan, menjalani karantina di Jakarta, sampai akhirnya mengikuti final,” kenang Karina mengenai perjalanannya.

Tak berhenti di situ, kepemimpinan publiknya juga teruji lewat perannya sebagai Ketua Srikandi Laskar Merah Putih Indonesia. Karina membuktikan bahwa keterlibatan di dunia hiburan, organisasi kemasyarakatan, dan panggung kebudayaan dapat saling melengkapi.

Menuju Dominasi Estetika di Panggung Global

Sinergi antara seni, kepemimpinan publik, dan pembinaan generasi muda diharapkan mampu memberikan warna baru bagi penguatan budaya serta industri kreatif nasional.

Dari seorang aktris, pemegang mahkota kecantikan, hingga berdiri di depan forum yang membicarakan masa depan sinema nasional, Karina Icha memperlihatkan bahwa perjalanan di dunia hiburan tidak selalu bergerak lurus.

Melalui kombinasi inovasi teknologi, keberanian cerita, dan regenerasi talenta yang terarah, film horor Indonesia dinilai siap melangkah lebih jauh dari sekadar hiburan komersial—tidak hanya bertaji di rumah sendiri, tetapi juga siap mengukuhkan dominasi estetika dan narasi di panggung global.

)***Tjoek / Foto Ist.

Bagikan ke orang lain :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *