Yogyakarta ! Uritanet.com –
Masa depan bangsa Indonesia sedang dipertaruhkan di dalam ruang-ruang posyandu, di desa-desa terpencil, dan di rumah-rumah sederhana di seluruh pelosok negeri. Masalah stunting bukan sekadar perkara fisik atau tinggi badan anak yang kurang ideal, melainkan sebuah ancaman nyata berupa perampasan masa depan generasi muda. Kekurangan gizi kronis pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merusak perkembangan otak secara permanen dan tidak dapat dikoreksi di kemudian hari.
Menyikapi urgensi tersebut, Deputi Bidang Penggerakan dan Peran Serta Masyarakat BKKBN resmi membuka agenda Mitra OTAFest Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) Tahun 2026. Acara yang berlangsung secara hibrida dan berpusat di The Phoenix Hotel Yogyakarta pada Jumat, 26 Juni 2026 ini, menjadi poros penguatan sinergi nasional demi menyelamatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting nasional menunjukkan tren penurunan yang positif. Angka stunting berhasil ditekan dari 21,5 persen menjadi 19,8 persen. Kendati menunjukkan hasil nyata dari kerja keras lintas sektor, pemerintah menegaskan bahwa perjuangan belum selesai.
Pemerintah menetapkan target yang lebih progresif melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), di mana target prevalensi stunting dikunci pada angka 17,5 persen untuk tahun 2026, dan harus mencapai 14,2 persen pada tahun 2029.
“Artinya, saat ini masih ada jutaan anak Indonesia yang membutuhkan uluran tangan kita semua. Stunting bukan sekadar soal tinggi badan. Stunting adalah perampasan masa depan anak-anak Indonesia,” tegas Deputi Bidang Penggerakan dan Peran Serta Masyarakat, Wahyuniati, SIP, MPH, dalam sambutan resminya.
Gerakan GENTING: Manifestasi Gotong Royong Lintas Sektor
Persoalan mendasar seperti stunting mustahil diselesaikan oleh satu instansi saja. Program GENTING hadir sebagai wadah gotong royong yang memayungi berbagai elemen bangsa. Gerakan ini menyatukan komitmen dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), sektor swasta, korporasi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), komunitas lokal, akademisi, media massa, hingga donor perorangan.
Melalui skema Orang Tua Asuh, setiap kontribusi dari mitra baru secara langsung menyelamatkan satu anak Indonesia dari risiko sekuel stunting yang permanen.
Kolaborasi Strategis di Yogyakarta
Pertemuan akbar ini dihadiri oleh tokoh-tokoh kunci penentu kebijakan publik dan gerakan sosial. Di antaranya adalah Dra. Hj. Puji Astuti, M.Si (Ketua Badan Amil Zakat Nasional/BAZNAS DIY), Eva Dipanti Tumba (Direktur Golda Institute), Ira Utari (Direktur Yayasan Indonesia Emas Merdeka), serta Dr. Fatmawati, ST., M.Eng (Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan). Hadir pula para Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi se-Indonesia, Tim Pengendali GENTING (TPG), dan seluruh Mitra Orang Tua Asuh.
Kehadiran perwakilan dari berbagai daerah ini menegaskan bahwa denyut nadi pergerakan dari Yogyakarta memiliki kedekatan geografis dan emosional yang kuat dengan dinamika penanganan stunting di seluruh wilayah Indonesia.
Empat Pilar Momentum Mitra OTAFest 2026
Mitra OTAFest GENTING 2026 dirancang bukan sebagai agenda seremonial tahunan belaka. Forum ini mengemban empat misi taktis: Penguatan Arah Kebijakan: Menyelaraskan persepsi serta strategi percepatan penurunan stunting nasional sepanjang tahun 2026.
Diseminasi Inovasi: Membagikan praktik baik (best practices) yang terbukti efektif memicu perubahan riil di lapangan.
Ekspansi Jaringan Kemitraan: Mengajak lebih banyak pihak masuk ke dalam ekosistem Orang Tua Asuh untuk memperluas cakupan bantuan.
Konsolidasi Komitmen: Memastikan roda Program GENTING terus bergerak dan memberikan dampak multiplikasi yang berkelanjutan.
Mengusung tema “Satu Kepedulian, Seribu Harapan untuk Masa Depan Anak Indonesia”, perhelatan ini memancarkan optimisme baru. Upaya ini bukan lagi membicarakan angka statistik di atas kertas, melainkan langkah nyata menyelamatkan hak hidup dan daya saing anak-anak kandung ibu pertiwi.
Menuntaskan stunting adalah investasi kemanusiaan tertinggi sekaligus harga mati bagi kedaulatan bangsa. Ketika seluruh elemen bangsa melebur dalam satu gerakan gotong royong GENTING, jalan menuju generasi emas yang sehat, cerdas, dan kuat bukan lagi sekadar impian, melainkan kepastian sejarah yang sedang kita wujudkan bersama.
Langkah kaki kita hari ini di Yogyakarta adalah penentu tegaknya pilar-pilar peradaban Indonesia di masa depan.
)***Tjoek / Foto Ist
