Jember ! Uritanet.com –
Momen penuh haru terjadi saat penyanyi Icha Yang didampingi Slamet Riyadi, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Arjasa Jember yang berkunjung bukan saja sekadar reuni, tetapi menjadi perjalanan nostalgia untuk mengenang masa sekolah yang menjadi titik awal tumbuhnya keberanian dan bakat bermusiknya.
Icha Yang mengungkapkan bahwa masa SMA menjadi salah satu fase paling berharga dalam hidupnya. Di sekolah itulah dirinya mulai menemukan potensi sebagai seorang penyanyi.
“Buat saya, masa SMA adalah masa yang paling berkesan. Dari sekolah ini saya mulai mencoba banyak hal, mulai dari paduan suara, berbagai kegiatan ekstrakurikuler, hingga akhirnya menemukan dunia menyanyi yang benar-benar cocok,” ujar Icha Yang.
Menurut Icha Yang, dukungan para guru di SMA Negeri 1 Arjasa Jember menjadi faktor penting dalam perjalanan kariernya. Ia mengaku awalnya lebih mengenal musik pop, namun kesempatan menyanyikan lagu dangdut saat acara sekolah membuat dirinya menemukan karakter suara yang berbeda.

Saat itu, Icha Yang mendapatkan dorongan dari para guru agar tampil percaya diri. Dukungan tersebut perlahan membangun mentalnya hingga berani tampil di depan banyak orang.
“Saya awalnya tidak terlalu percaya diri. Tetapi guru-guru selalu memberi semangat. Mereka bilang saya harus tampil maksimal dan percaya diri,” kenang Icha Yang.
Dari pengalaman sederhana di panggung sekolah, Icha Yang mulai menyadari bahwa musik dangdut memiliki ruang yang sesuai dengan karakter vokalnya.
Perjalanan itu kemudian membawanya terus berkembang hingga mencoba berbagai genre, termasuk musik Mandarin yang akhirnya menjadi salah satu warna dalam kariernya.

Selain mengenang perjalanan bermusik, Icha Yang juga bercerita tentang kenangan masa sekolah yang penuh cerita. Salah satu yang masih diingat adalah kebiasaannya datang terlambat sehingga harus menjalani hukuman menggunakan seragam khusus berwarna mencolok.
“Dulu kalau terlambat ada hukuman. Saya pernah memakai baju dengan warna yang mudah terlihat saat mengelilingi lapangan. Itu jadi kenangan lucu yang sekarang malah saya rindukan,” ucap Icha Yang.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Arjasa, Jember, Slamet Riyadi, menyampaikan rasa bangga atas kehadiran alumni yang telah berhasil membawa nama baik sekolah.
Menurut Slamet Riyadi kedatangan Icha Yang menjadi motivasi bagi para siswa untuk terus berusaha mengembangkan potensi diri.
“Kehadiran alumni yang sudah mencapai titik luar biasa seperti ini menjadi sebuah anugerah bagi sekolah. Ini bisa menjadi inspirasi bagi adik-adiknya bahwa setiap siswa memiliki cerita dan peluang untuk berkembang,” kata Slamet Riyadi.
Ia juga menilai SMA Negeri 1 Arjasa Jember terus mengalami perkembangan dan memiliki banyak prestasi. Kehadiran alumni sukses menjadi energi positif bagi sekolah untuk terus maju.
Icha Yang berharap SMA Negeri 1 Arjasa Jember semakin berkembang, semakin diminati masyarakat, dan melahirkan lebih banyak generasi berprestasi.
“Jangan takut mencoba hal baru. Selama ada dukungan dan keberanian, kita bisa menemukan jalan terbaik untuk diri kita,” pesan Icha Yang.
Kisah Icha Yang menjadi bukti bahwa perjalanan besar sering kali dimulai dari langkah sederhana. Sebuah panggung kecil di sekolah, dukungan guru, dan keberanian mencoba mampu menjadi awal lahirnya mimpi besar yang menginspirasi banyak orang.
Kunjungan Icha Yang ke SMA Negeri 1 Arjasa Jember bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi tentang merawat nilai perjuangan, pendidikan, dan dukungan yang mampu mengubah bakat menjadi prestasi.
Sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang pertama bagi setiap insan untuk menemukan arah dan membangun masa depan.
)**Pray / Tjoek / Foto Ist.

