Belantara Foundation Dorong Bioprospeksi Berkeadilan untuk Perkuat Bioekonomi Berkelanjutan Indonesia

Bagikan ke orang lain :

Bogor  ! Uritanet.com – 

Momentum peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2026 dimanfaatkan secara serius oleh Belantara Foundation bersama Universitas Pakuan untuk memperkuat pemahaman publik mengenai pentingnya bioprospeksi sebagai fondasi pembangunan bioekonomi berkelanjutan di Indonesia. Melalui kegiatan Belantara Learning Series Episode 15 (BLS Eps.15), ratusan akademisi, mahasiswa, peneliti, pelaku industri, hingga pemerhati lingkungan berkumpul membahas strategi pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia secara bijak, adil, dan berkelanjutan.

Kegiatan bertema “Bioprospeksi untuk Bioekonomi Berkelanjutan di Indonesia: Menjembatani Konservasi, Inovasi dan Keadilan Manfaat” tersebut berlangsung secara hybrid pada Rabu, 20 Mei 2026. Secara luring, acara dipusatkan di Auditorium Lantai 3 Gedung Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Bogor, sementara peserta daring mengikuti melalui Zoom dan siaran langsung YouTube Belantara Foundation. Sebanyak 968 peserta tercatat berpartisipasi aktif dalam forum ilmiah nasional tersebut.

Kegiatan ini menjadi semakin kuat karena melibatkan berbagai elemen strategis. Selain didukung oleh Teras Mitra dan Perkumpulan Pelajar Indonesia Dunia Kawasan Timur Tengah dan Afrika (PPIDK Timtengka), acara juga menggandeng tujuh perguruan tinggi di Indonesia melalui program “Nonton dan Belajar Bareng” BLS Eps.15. Ketujuh kampus tersebut yakni Universitas Riau, Universitas Sumatera Utara, Universitas Syiah Kuala, Universitas Negeri Makassar, Universitas Antakusuma, Universitas Tanjungpura, dan Universitas Muhammadiyah Kuningan.

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna menegaskan bahwa bioprospeksi bukan semata-mata eksplorasi ekonomi dari kekayaan biodiversitas Indonesia, melainkan juga upaya menjaga keseimbangan ekosistem dan memastikan masyarakat lokal memperoleh manfaat yang adil.

“Bioprospeksi tidak hanya berbicara tentang eksplorasi potensi ekonomi dari kekayaan hayati Indonesia, tetapi juga tentang bagaimana memastikan masyarakat lokal sebagai penjaga utama hutan dan ekosistem memperoleh manfaat yang adil dan berkelanjutan,” ujar Dolly.

Menurut Dolly, transformasi menuju bioekonomi berkelanjutan membutuhkan dukungan regulasi yang kuat, tata kelola yang baik, serta penguatan riset berbasis ilmu pengetahuan. Ia menilai kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dunia usaha, masyarakat adat, dan generasi muda menjadi kunci penting dalam menjaga keberlanjutan biodiversitas Indonesia.

“Sudah saatnya kekayaan biodiversitas Indonesia menjadi lokomotif bioekonomi yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan, sekaligus menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang,” tambahnya.

Dalam keynote speech, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo A.A. Teguh Sambodo menegaskan bahwa pengembangan bioekonomi harus dilakukan secara terintegrasi mulai dari konservasi hingga hilirisasi industri berbasis sumber daya hayati.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah telah memasukkan penguatan bioekonomi ke dalam RPJPN 2025–2045, RPJMN 2025–2029, hingga Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045 sebagai bagian dari pembangunan hijau nasional.

“Pengembangan bioekonomi bukan hanya transformasi ekonomi, tetapi juga transformasi sosial yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama sekaligus penerima manfaat,” jelas Deputi Teguh.

Sementara itu, Rektor Universitas Pakuan, Prof. Dr. rer.pol. Ir. Didik Notosudjono menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menghasilkan riset aplikatif berbasis biodiversitas lokal. Menurutnya, kampus tidak lagi cukup hanya menghasilkan publikasi ilmiah, namun juga harus mampu melahirkan solusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan.

Pada sesi ilmiah, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Dr. Ir. Hadi Sukadi Alikodra menjelaskan bahwa bioprospeksi merupakan proses penelusuran dan investigasi sistematis terhadap senyawa kimia, bahan aktif, gen, protein, hingga informasi genetik lain yang memiliki nilai ekonomi aktual maupun potensial dari keragaman hayati.

Menurut Prof. Hadi, komersialisasi bioprospeksi yang dilakukan secara hati-hati dapat memperkuat ekonomi nasional sekaligus mendukung perlindungan hutan dan masyarakat hukum adat melalui sistem royalti yang berkeadilan.

“Bioprospeksi dapat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan ekonomi masyarakat, meningkatkan pendapatan asli daerah, hingga memperkuat devisa negara,” ungkapnya.

Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Prof. Dr. Sri Setyaningsih berharap kegiatan BLS Eps.15 mampu menjadi ruang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan gagasan baru terkait pengelolaan biodiversitas Indonesia secara berkelanjutan.

Kegiatan ini juga menghadirkan sejumlah narasumber berpengalaman di bidang bioprospeksi, di antaranya Ketua LPPM Universitas Pakuan Dr. apt. Lusi Agus Setiani, Heads Corporate Advance Research and Evaluation Centre Martha Tilaar Group Maily, serta Marketing Manager PT Alam Siak Lestari Fahmi Afdhi Zaky. Acara dipandu oleh mantan Pemimpin Redaksi Majalah Trubus, Sardi Duryatmo.

Semangat kolaborasi yang lahir dari BLS Eps.15 menjadi sinyal kuat bahwa masa depan bioekonomi Indonesia tidak hanya bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga pada keberanian menjaga keseimbangan antara inovasi, konservasi, dan keadilan sosial. Ketika biodiversitas dijaga dengan ilmu pengetahuan dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab, Indonesia tidak hanya sedang membangun ekonomi hijau, tetapi juga sedang menyiapkan warisan kehidupan yang bernilai tinggi bagi generasi mendatang.

Melalui sinergi lintas sektor dan penguatan riset berbasis biodiversitas lokal, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat bioekonomi dunia yang berkelanjutan. Bioprospeksi bukan sekadar strategi ekonomi, melainkan langkah nyata menjaga masa depan bumi, memperkuat kesejahteraan masyarakat, dan memastikan kekayaan hayati Nusantara tetap lestari sepanjang zaman.

)**Yuri AP/ Foto Ist.

Bagikan ke orang lain :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *