Jakarta ! Uritanet.com —
Di tengah kompleksitas tantangan pembangunan nasional yang kian berlapis, mulai dari kemiskinan, ketimpangan sosial, hingga krisis iklim, kolaborasi menjadi kata kunci yang tak bisa ditawar. Hal ini ditegaskan oleh Perhimpunan Filantropi Indonesia dalam Rapat Umum Anggota (RUA) 2026 yang digelar di Gedung IPMI, Jakarta.
Dalam forum strategis tersebut, PFI menegaskan bahwa pendekatan filantropi yang berjalan secara parsial tidak lagi relevan. Transformasi menuju aksi kolektif yang terstruktur, terkoordinasi, dan berdampak menjadi kebutuhan mendesak untuk menjawab persoalan bangsa secara sistemik.
Sepanjang tahun 2025, PFI mencatat kolaborasi antar anggota sebagai pilar utama penguatan ekosistem filantropi. Ketua Badan Pengurus PFI, Rizal Algamar, menyampaikan bahwa semangat ko-kreasi telah berkembang menjadi kekuatan nyata dalam melahirkan solusi yang lebih terintegrasi dan relevan.

“Kolaborasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Melalui proses saling belajar, berbagi pengalaman, dan perancangan program bersama, anggota mampu menghasilkan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan,” ujarnya.
PFI juga memperkuat ekosistem kolaborasi melalui Filantropi Hub dengan pendekatan klaster tematik, pengembangan Multi-Stakeholder Forum (MSF), serta penyediaan ruang dialog dan co-creation lintas sektor. Inisiatif ini mempertemukan organisasi filantropi, pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil dalam satu ekosistem yang sinergis.
Momentum kolaborasi semakin diperkuat melalui penyelenggaraan Filantropi Indonesia Festival 2025 (FlFest2025), yang menghadirkan lebih dari 3.750 peserta dari lebih 100 lembaga. Forum ini tidak hanya menjadi ruang bertukar pengetahuan, tetapi juga membuka peluang kemitraan strategis lintas sektor.
Kepercayaan terhadap PFI juga tercermin dari meningkatnya jumlah anggota yang kini mencapai 252 organisasi. Dinamika ini menunjukkan bahwa konektivitas dalam ekosistem filantropi Indonesia semakin solid dan berkembang.
Dari sisi implementasi, sejumlah kolaborasi konkret menjadi bukti nyata dampak kolektif tersebut. Program Guru Berdaya hasil sinergi Yayasan Guru Belajar dan Yayasan Bangun Kecerdasan Bangka, hingga program penyelamatan sekolah bagi 220 siswa di Desa Barusari oleh Bakti Barito, Happy Hearts Indonesia, dan Kita Bisa, menunjukkan bagaimana kekuatan kolaborasi mampu menjangkau kebutuhan riil masyarakat.
Upaya pemulihan pascabencana melalui kemitraan Rumah Zakat dan Wahana Visi Indonesia, serta inisiatif keberlanjutan seperti Youth for Climate Action oleh PT Insight Investments Management bersama Yayasan Inspirasi Indonesia Membangun, semakin mempertegas bahwa kolaborasi lintas sektor mampu menghadirkan solusi yang lebih komprehensif.
CEO Rumah Zakat, Irvan Nugraha, mengungkapkan bahwa keanggotaan dalam PFI memberikan manfaat nyata dalam memperluas sinergi program. Senada dengan itu, Vanessa Letizia dari Greeneration Foundation menilai bahwa forum PFI membuka ruang jejaring yang memperkuat peluang kolaborasi.
Apresiasi juga datang dari Belantara Foundation. Dolly menyampaikan bahwa penghargaan dari PFI menjadi pemicu semangat untuk terus berkontribusi dalam mewujudkan lanskap lestari dan kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Pit. Direktur Eksekutif PFI, Rully Amrullah, menegaskan bahwa melalui penguatan klaster, jejaring, dan inisiatif bersama, anggota mampu menghadirkan praktik filantropi yang lebih adaptif, inklusif, dan berdampak luas.
Melalui RUA 2026, PFI kembali menegaskan komitmennya untuk menjadikan kolaborasi sebagai fondasi utama dalam membangun masa depan filantropi Indonesia. Sebuah masa depan yang tidak hanya diukur dari besarnya sumber daya, tetapi dari kemampuan menyatukan kekuatan, menyelaraskan visi, dan bergerak bersama dalam satu arah perubahan.
Pada akhirnya, filantropi bukan sekadar tentang memberi, melainkan tentang bagaimana bersama-sama menciptakan perubahan yang nyata, berkelanjutan, dan menyentuh kehidupan masyarakat secara luas.
)***Tjoek / Foto Baihaqi Belantara

