“Hati Suci” Kisah Perjuangan Auw Tjoei Lan Patut Diteladani

URITANET – Auw Tjoei Lan lahir di Majalengka pada 17 Februari 1889. Ia lahir di keluarga yang berkecukupan. Ayahnya seorang pengusaha yang memiliki kebun tebu dan pabrik gula. Ayah Auw merupakan seseorang yang peduli kemanusiaan. Ia melakukan kegiatan amal, menolong gelandangan, tunanetra dan tunawisma.

Sifat ini rupanya menurun pada Auw Tjoei Lan. Ia tumbuh menjadi seseorang yang peduli sesama. Setelah menikah dengan Lie Tjian Tjoen (Kapitein der Chinezen Batavia), ia tinggal di rumah mertuanya di Batavia.

Di sana ia bertemu dengan dr. Zigman, mantan gurunya yang mengajar bahasa dan kebudayaan. Dari situlah ia mulai aktif melakukan pemberantasan perdagangan perempuan.

Pada tahun 1914, saat ia berumur 25 tahun, Auw Tjoei Lan atau dikenal juga dengan nama Nyonya Lie Tjian Tjoen mendirikan lembaga sosial bernama Perkoempoelan Ati Soetji atau Perkumpulan Hati Suci bersama dr. Zigman dan kawan-kawannya.

Lembaga ini bertujuan untuk menjunjung derajat kebangsaan, memajukan pengajaran, dan membantu ekonomi bumiputera. Kegiatan dari lembaga ini adalah memajukan kehidupan perempuan, menyantuni anak yatim, anak terlantar, hingga menampung pelacur yang terpaksa melacur karena kondisi ekonomi.

Adanya pergerakan ini sangat membantu orang-orang susah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.  Auw Tjoei Lan tidak hanya bekerja di balik layar dari gerakan ini.

Ia juga maju melawan mucikari yang memaksa perempuan untuk bekerja sebagai pelacur. Seorang mucikari yang mengamuk bahkan pernah mencekik leher Auw Tjoei Lan karena merusak bisnisnya.

Mucikari lainnya bahkan mengiriminya golok penuh darah. Tapi kejadian ini tidak menciutkan nyali Auw Tjoei Lan untuk terus menyelamatkan perempuan-perempuan, khususnya yang masih anak-anak dari pelacuran.

Ia masih rela keluar malam-malam demi menyelamatkan gadis belia yang meminta pertolongan karena nyaris dijual.

Pada tahun 1929, Nyonya Lie Tjian Tjoen mendirikan sebuah bangunan di daerah Kebon Sirih. Jalan di depan bangunan ini kemudian diberi nama Hati Suci.

Yayasan ini kemudian berkembang menjadi panti asuhan yang dapat menampung hingga 200 anak.

Pada 1937 ia menerima bintang Ridder in de Order van Oranje Nassau dari Pemerintah Belanda. Nyonya Lie Tjian Tjoen meninggal pada tahun 1965.

Ia dimakamkan di Jati Petamburan dengan diantar oleh ribuan orang dari sanak saudara hingga mantan anak asuhnya.

Meski jasadnya telah tiada, namun semangatnya tidak pernah padam dan perjuangannya tidak akan berhenti hingga tidak ada anak-anak Indonesia yang terlantar.

Perkumpulan Hati Suci bukan hanya bentuk perjuangan memberantas perdagangan perempuan yang bersifat sementara. Bahkan hingga saat ini, yayasan ini masih berdiri.

Sungguh luar biasa!

 

By : Yap An Lin.

Comment