Bekasi ! Uritanet.com —
Langkah kaki di pagi hari itu disambut senyum hangat di sepanjang jalanan Bekasi. Ketua Yayasan Humaniora, Eddie Karsito, kembali menyusuri lorong-lorong kota, menghampiri para pemulung dan pengamen binaan yang bermukim di bawah jembatan hingga gubuk-gubuk shelter sederhana. Aksi turun langsung ini dilakukan untuk mendata ulang warga marjinal yang hingga kini belum memiliki identitas resmi berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK).
Persoalan ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan muara dari persoalan kemiskinan struktural yang mengakar. Tanpa dokumen kependudukan, kelompok masyarakat marjinal kehilangan akses terhadap berbagai layanan dasar negara, termasuk jaminan sosial dan pendidikan anak-anak mereka.
“Kemiskinan struktural itu nyata. Jangankan bermimpi memiliki harta benda, rumah, atau tanah, dokumen primer seperti Kartu Keluarga dan KTP saja mereka tidak punya. Ini sangat memprihatinkan. Hak dasar inilah yang terus kami perjuangkan agar negara hadir memenuhinya,” tegas Eddie Karsito di sela-sela pendataan.

Rantai Masalah: Dari Literasi Kependudukan hingga Akses Sekolah Anak
Rendahnya literasi kependudukan menjadi penghambat utama warga jalanan dalam mengurus dokumen sipil. Dampak domino dari ketiadaan KTP dan KK induk ini berlanjut pada kesulitan penerbitan Akta Kelahiran bagi anak-anak mereka.
Padahal, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI menetapkan aturan bahwa setiap peserta didik wajib memiliki Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) yang berlaku sejak jenjang PAUD/TK hingga Perguruan Tinggi. Penerbitan NISN tersebut terintegrasi langsung dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang tercantum pada Akta Kelahiran.
Yayasan Humaniora yang saat ini telah mendaftarkan anak-anak pemulung dan pengamen ke bangku sekolah terus bergerak cepat agar hak belajar anak-anak tersebut tidak terhalang oleh tembok birokrasi kependudukan.

Melayani Tanpa Henti
Bagi Eddie Karsito dan jajaran Yayasan Humaniora, pendampingan ini adalah wujud nyata komitmen kemanusiaan yang dijalani konsisten setiap hari.
“Terima kasih kepada Allah SWT yang telah mengaruniai kami kesehatan dan kesempatan untuk melayani. Setiap hari selalu ada ruang untuk menebar kebaikan, dan berbuat baiklah setiap hari,” pungkas Eddie menutup perbincangan.
Perjuangan menghadirkan identitas resmi bagi kaum marjinal bukan sekadar membagikan selembar kartu plastik, melainkan langkah awal mengembalikan martabat manusia dan membuka pintu masa depan yang lebih adil bagi generasi penerus. Salam Humaniora!
)**Tjoek / Foto Ist.
