Uritanet – Jakarta – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGE) mulai memperluas bisnisnya di luar penjualan listrik panas bumi dengan membidik pasar data center yang membutuhkan pasokan energi stabil, andal, dan rendah emisi. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan membangun off-grid business sebagai sumber pendapatan baru di tengah meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital.
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, mengungkapkan perusahaan saat ini tengah memfinalisasi studi untuk proyek percontohan (pilot project) data center berbasis energi panas bumi di kawasan Kamojang, Jawa Barat. Proyek tersebut ditargetkan mulai direalisasikan pada tahun ini.
“Di Kamojang kita sudah sedang proses studi, mudah-mudahan segera dimulai dalam bentuk pilot project yang nyata,” ujar Ahmad Yani dalam Media Briefing di Habitate, Jakarta Selatan, Selasa (4/8/2026).

Berbeda dengan pembangkit listrik konvensional, energi panas bumi dinilai memiliki keunggulan sebagai baseload energy, yakni mampu memasok listrik secara terus-menerus tanpa bergantung pada cuaca. Karakteristik tersebut menjadi nilai strategis bagi industri data center yang menuntut tingkat keandalan sangat tinggi dan hampir tidak mentoleransi gangguan pasokan listrik.
Menurut Yani, tantangan utama bukan hanya menyediakan listrik, tetapi juga merancang sistem yang mampu memenuhi standar operasional data center, termasuk kebutuhan cadangan daya agar tetap beroperasi saat terjadi gangguan.
“Data center tidak boleh mati. Kita sedang mendesain bagaimana sistem geotermal ini bisa memenuhi kebutuhan mereka, termasuk backup power agar sesuai dengan standar yang dibutuhkan,” jelasnya.
PGE melihat peluang besar seiring meningkatnya kebutuhan pusat data di Indonesia akibat pesatnya perkembangan komputasi awan (cloud), kecerdasan buatan (AI), hingga transformasi digital berbagai sektor industri.

Untuk memperkuat ekosistem tersebut, PGE telah menjalin kerja sama dengan IDPro dan Telkom. Selain itu, perusahaan juga membuka komunikasi dengan Microsoft guna memahami kebutuhan infrastruktur energi bagi data center berskala global.
“Yang kami pelajari adalah apa yang mereka butuhkan dan bagaimana energi panas bumi bisa menjadi solusi yang sesuai bagi operasional data center,” kata Yani.
Jika proyek Kamojang berjalan sesuai rencana, PGE akan memperluas pengembangan ke sejumlah wilayah yang dinilai memiliki potensi besar sebagai pusat data baru, di antaranya Sulawesi dan Sumatra. Sulawesi dinilai memiliki keunggulan karena telah terhubung dengan jaringan kabel bawah laut internasional yang mendukung konektivitas data.
Strategi ini menunjukkan transformasi PGE dari perusahaan penyedia energi panas bumi menjadi penyedia solusi energi hijau untuk industri digital. Di tengah meningkatnya tuntutan global terhadap penggunaan energi bersih, kombinasi antara panas bumi dan infrastruktur data center berpotensi menjadi model bisnis baru yang tidak hanya meningkatkan pendapatan perusahaan, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai tujuan investasi pusat data berkelanjutan di kawasan Asia.
***

