Angkat Kearifan Lokal Bali, FIK UI Kembangkan Inovasi Permainan Kognitif untuk Lansia di Karangasem

Bagikan ke orang lain :

KARANGASEM, BALI ! Uritanet.com –

Kekayaan tradisi dan pengalaman hidup masyarakat Bali menjadi inspirasi pengembangan inovasi kesehatan lansia melalui program Peplalianan. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) memperkenalkan permainan edukatif berbasis kenangan dan budaya lokal sebagai alternatif kegiatan stimulasi kognitif bagi lansia di Banjar Geriana Kauh, Desa Duda Utara, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali.

Inisiatif tersebut dilaksanakan melalui Program Hibah Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Skema Penugasan Universitas Indonesia Tahun 2026, dengan dukungan pendanaan dari Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial (DPIS) Universitas Indonesia. Program ini dipimpin oleh Prof. Dr. Etty Rekawati, S.Kp., M.K.M., bersama tim pengabdi dari FIK UI.

Peplalianan mengusung pendekatan yang menghubungkan aktivitas stimulasi kognitif dengan pengalaman keseharian dan identitas budaya lansia.

Media permainan ini dirancang untuk melibatkan kemampuan mengingat, mengenali objek, menyampaikan cerita, dan menyelesaikan aktivitas sederhana yang dikemas melalui unsur budaya Bali.

Pengembangan inovasi tersebut dilatarbelakangi oleh pentingnya menghadirkan kegiatan kesehatan lansia yang tidak hanya berfokus pada kondisi fisik, tetapi juga memperhatikan fungsi kognitif dan kebutuhan interaksi sosial.

Penggunaan unsur budaya yang akrab bagi peserta diharapkan dapat menciptakan pengalaman bermain yang lebih menarik dan bermakna.

Dukungan pemerintah dan masyarakat setempat menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan program. Kepala Desa Duda Utara, I Wayan Suarman, S.E., membuka kegiatan yang turut melibatkan Bendesa Adat Geriana Kauh, Kepala Wilayah Banjar Geriana Kauh, Yayasan Sahaja, Universitas Udayana, serta tenaga kesehatan dari puskesmas.

Kader Posyandu Dibekali Keterampilan Stimulasi Kognitif

Pemberdayaan kader menjadi salah satu strategi utama untuk memperluas pemanfaatan Peplalianan di masyarakat. Sebanyak 19 kader dan keluarga pendamping mengikuti pelatihan yang membahas perubahan fungsi kognitif pada lansia, pengenalan aktivitas stimulasi kognitif, serta teknik pendampingan peserta dalam kegiatan kelompok.

Materi pelatihan dipadukan dengan demonstrasi dan praktik penggunaan permainan Peplalianan. Kader memperoleh kesempatan untuk memahami aturan permainan, mencoba aktivitas yang tersedia, dan mempelajari cara memberikan instruksi yang mudah diikuti oleh lansia.

Pembekalan tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan kegiatan posyandu yang lebih beragam. Peran kader tidak hanya diarahkan pada pendampingan pemeriksaan kesehatan, tetapi juga pada fasilitasi aktivitas yang mendorong kemampuan berpikir, komunikasi, dan partisipasi sosial lansia.

Program ini turut menjangkau 30 lansia melalui pelayanan pemeriksaan kesehatan dan simulasi permainan. Pelaksanaannya didukung oleh 20 orang dari Universitas Udayana, 10 orang dari puskesmas, serta 5 relawan yang berkolaborasi dalam berbagai rangkaian kegiatan.

Pelayanan kesehatan mencakup pemeriksaan kadar gula darah, kolesterol, asam urat, serta konsultasi dokter. Mitra Universitas Udayana juga berkontribusi melalui pelayanan terapi komplementer keperawatan untuk mendukung kesehatan dan kenyamanan peserta.

Sesi permainan memberikan ruang bagi lansia untuk mengenali gambar budaya Bali, mengingat pengalaman pribadi, dan berbagi cerita dengan peserta lainnya. Simulasi tersebut sekaligus memperkenalkan cara mengintegrasikan Peplalianan ke dalam aktivitas posyandu
lansia.

Pengalaman Peserta Menjadi Masukan Penyempurnaan Permainan

Antusiasme sejumlah lansia menjadi salah satu hasil pengamatan selama pelaksanaan kegiatan. Beberapa peserta menunjukkan ketertarikan dan merasa senang ketika mengikuti permainan yang berkaitan dengan pengalaman hidup serta budaya setempat.

Pengamatan tim juga menemukan bahwa karakteristik dan kemampuan peserta perlu menjadi perhatian dalam penerapan media stimulasi kognitif. Sebagian lansia mengalami kesulitan memahami atau menyelesaikan aktivitas permainan karena keterbatasan pendidikan formal, gangguan penglihatan, maupun hambatan sensorik.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya desain permainan yang mudah dipahami dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Tim pengabdi menjadikan pengalaman lapangan sebagai dasar evaluasi untuk menyederhanakan petunjuk, meningkatkan keterbacaan media
visual, dan memperbaiki pendekatan fasilitasi.

Penyempurnaan tersebut diharapkan dapat memperluas kesempatan bagi lansia dengan beragam kemampuan untuk mengikuti aktivitas secara nyaman tanpa merasa terbebani oleh tingkat kesulitan permainan.

Perkuat Keberlanjutan melalui Pengelolaan oleh Masyarakat

Upaya pengembangan Peplalianan tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan dan simulasi. Paket permainan telah diserahkan kepada posyandu untuk mendukung pemanfaatannya dalam kegiatan lansia secara berkelanjutan.

Kader yang telah mendapatkan pembekalan diharapkan dapat menggunakan media tersebut secara berkala dengan menyesuaikan jadwal dan kebutuhan pelayanan posyandu. Rencana keberlanjutan juga mencakup pemantauan penggunaan permainan, pendampingan kader, dan evaluasi untuk mengidentifikasi peluang perbaikan.

Pendekatan berbasis pemberdayaan ini diarahkan untuk memperkuat kemampuan komunitas dalam mengelola program kesehatan lansia secara mandiri. Keterlibatan pemerintah desa, fasilitas kesehatan, perguruan tinggi, dan organisasi masyarakat diharapkan dapat
memperkuat koordinasi serta membuka peluang penerapan Peplalianan pada kelompok lansia lainnya.

Dukungan DPIS Universitas Indonesia terhadap program pengabdian masyarakat ini menjadi bagian dari upaya mendorong penerapan hasil inovasi perguruan tinggi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Peplalianan memperlihatkan potensi penggabungan pengetahuan keperawatan komunitas dengan kekayaan budaya lokal dalam pengembangan kegiatan kesehatan lansia. Pemanfaatan kenangan dan tradisi sebagai bagian dari aktivitas permainan diharapkan dapat menghadirkan pengalaman yang tidak hanya merangsang kemampuan kognitif, tetapi juga memperkuat interaksi sosial dan penghargaan terhadap pengalaman hidup peserta.

Inovasi Peplalianan diharapkan dapat terus disempurnakan dan dikembangkan
menjadi model stimulasi kognitif berbasis budaya lokal yang inklusif, mudah
diterapkan oleh kader, serta berkelanjutan di tingkat komunitas.

)**FIK UI by Dyanta/ Foto FIKUI

Bagikan ke orang lain :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *