Uritanet – Jakarta, 7 Agustus 2026 – Di tengah meningkatnya interaksi digital yang kian menggeser pertemuan tatap muka, TAMAN brightspot 2026 memilih mengambil peran berbeda. Festival gaya hidup yang digelar di Urban Forest Cipete ini tidak sekadar menjadi ajang belanja produk lokal, tetapi menawarkan ruang publik yang mendorong lahirnya koneksi sosial dan kolaborasi antarkomunitas kreatif.
Memasuki penyelenggaraan tahun ini, TAMAN brightspot berlangsung selama dua periode, yakni 31 Juli–2 Agustus dan 7–9 Agustus 2026, dengan menghadirkan lebih dari 120 tenant terkurasi, sekitar 40 persen di antaranya merupakan brand yang baru pertama kali bergabung.
Di tengah maraknya komunitas berbasis hobi seperti running club, olahraga raket, hybrid athlete, hingga komunitas memasak, kerajinan tangan, dan kelompok diskusi, penyelenggara melihat adanya kebutuhan masyarakat terhadap ruang bersama yang mampu mempertemukan berbagai latar belakang dalam satu ekosistem.
Fenomena tersebut sejalan dengan laporan World Health Organization (WHO) 2025 yang menyoroti krisis koneksi sosial sebagai salah satu tantangan global. Kondisi ini membuat ruang publik memiliki fungsi yang semakin penting sebagai tempat membangun interaksi, rasa memiliki, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan.
Founder brightspot & Future10, Anton Wirjono, mengatakan TAMAN brightspot dirancang sebagai ruang inklusif yang terus berkembang mengikuti kebutuhan komunitas.

“TAMAN brightspot terus hadir karena kami mendengar komunitas, pengunjung, dan perubahan kota. Ruang publik yang baik bukan hanya ramai atau menarik secara visual, tetapi mampu membuat setiap orang merasa diterima dan pulang membawa koneksi serta inspirasi baru,” ujarnya.
Tidak hanya menghadirkan tenant kuliner dan produk gaya hidup, festival ini juga menjadi wadah bagi berbagai aktivitas komunitas, pertunjukan seni, hingga musik yang memperkuat interaksi antarpengunjung.
Co-Founder brightspotMRKT, Leonard Theosabrata, menilai ekosistem ekonomi kreatif hanya dapat berkembang apabila keberagaman ide dan talenta memperoleh ruang yang sama untuk bertumbuh.
Menurutnya, kurasi tenant, program komunitas, seni, kuliner, hingga musik dalam TAMAN brightspot menjadi bagian dari upaya membangun ruang kolaborasi yang terbuka bagi siapa pun untuk berkarya.
“Tahun ini sekitar 30 persen dari lebih 125 tenant di TAMAN brightspot merupakan tenant makanan dan minuman. Kami ingin menghadirkan ruang yang membuat pengunjung betah dengan perpaduan kuliner, musik, dan aktivitas komunitas. Sebagai agenda tahunan yang kini memasuki tahun keempat, kami berharap TAMAN brightspot terus menjadi ruang publik yang mendukung UMKM dan komunitas kreatif.” ujar
Hendrick Setio – Business Development & Partnership, brightspot
Pemilihan Urban Forest Cipete sebagai lokasi penyelenggaraan juga menjadi bagian dari konsep tersebut. Kawasan hijau yang berada di Jakarta Selatan ini dinilai mampu menghadirkan suasana yang lebih rileks sekaligus menjadi titik temu masyarakat urban yang ingin beraktivitas di ruang terbuka.
Dari sisi aksesibilitas, penyelenggara kembali menggandeng myBCA sebagai Official Banking Partner yang menghadirkan kemudahan transaksi digital melalui aplikasi myBCA dan Paylater BCA, lengkap dengan berbagai promo eksklusif bagi pengunjung.
Sementara itu, MRT Jakarta kembali menjadi Official Public Transport Solution yang memudahkan masyarakat mencapai lokasi acara karena Urban Forest Cipete berada tidak jauh dari Stasiun MRT Cipete.
Di sektor desain ruang, TACO berperan sebagai Creative and Innovation Enabler dengan menghadirkan solusi material untuk berbagai area dan booth tenant sehingga mampu menampilkan identitas kreatif masing-masing brand lokal.
Selain menjadi ruang interaksi, TAMAN brightspot 2026 juga menghadirkan panggung musik dengan beragam genre. Sejumlah musisi seperti Pure Saturday, Andien, Batavia Collective, Aziz Hendra, dan puluhan penampil lainnya dijadwalkan menghibur pengunjung selama festival berlangsung.

Melalui konsep tersebut, TAMAN brightspot 2026 ingin menegaskan bahwa ruang publik bukan hanya tempat berkumpul, melainkan medium untuk memperkuat hubungan sosial, memperluas kolaborasi, dan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di tengah kehidupan perkotaan yang semakin terdigitalisasi.
**Benksu

