Jakarta ! Uritanet.com –
Puluhan hingga ratusan riwayat tertera rapih dalam ekslempar halaman. Lara dan gembira ialah saksi bisu dari alur cerita.
Seorang pendidik pernah menitipkan sebuah pesan. “Tempat ini bukan akhir, tapi terminal sebelum menjalani apa yang menjadi akhir”. Kalimat tersebut selalu diresapi sebagai pengingat untuk menjalani.
Pada tingkat satu selalu berujar bahwa puncak dari apa yang dijalani ialah mencapai tumbuh, liar dan berkembang secara bersama. Ternyata, itu semua sudah terjadi sekarang. Hal tersebut tak terlepas dari andil para keluarga yang selalu menyertai.
Terlihat naif
Klise
Berlebihan
Tak penting orang bicara apa tapi itu yang diyakini. Sebab, hidup tak sendiri banyak subjek sayang dengan subjek lain walau hanya menerima kasih dan sayangnya. Itu semua, dibaratkan dengan ada subjek lain di hidup kita dan ada kita di subjek lain.
Tak boleh iri, tak boleh dengki apa lagi mengkomparasi. Kita selalu diminta untuk syukur dalam keadaan apapun yang sedang terjadi.
Dogma tersebut semakin kuat dengan hal sederhana yang pernah menghampiri. Berada pada titik gengsi dengan segala pertanyaan dan penyesalan tapi Ia menegur konstan lewat tangan-tangannya.
Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa ternyata banyak pertanyaan dikepala tanpa sadar jawabannya ada di sekitar. Keadaan itu yang selalu buat yakin bahwa kebesaran-Nya bukan hal yang seberapa.
Ternyata, apa yang kita lalui ialah bentuk manifestasi dari tahun tahun sebelumnya. Riwayat ini tak hanya soal rumah ke rumah tapi tentang nilai nilai yang di dapat dari sebuah jalinan.
Meaningful ialah sebuah kata yang dapat merangkum ratusan ekslempar riwayat. Banyak harap untuk semua dan semoga setiap apa yang menjadi harap akan terharap.
)** Yuri Pribadi

