Uritanet – Jakarta 6 Mei 2026 Di tengah dorongan mewujudkan Indonesia Emas 2045, tantangan ketenagakerjaan inklusif masih menjadi pekerjaan rumah besar. Di antara jutaan penyandang disabilitas usia produktif, penyandang tunanetra masih menjadi kelompok yang paling minim terakomodasi di dunia kerja formal.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 17,8 juta orang. Namun, hanya 23,94 persen yang terserap di sektor kerja formal.
Kondisi itu bahkan lebih timpang bagi penyandang tunanetra. Dari sekitar 4,2 juta penyandang tunanetra di Indonesia, hanya sekitar satu persen yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan. Kondisi tersebut mendorong Yayasan Mitra Netra menghadirkan Direktori Pekerjaan Tunanetra Indonesia, sebuah panduan yang dirancang untuk memperluas pemahaman publik dan dunia usaha tentang kapasitas profesional penyandang tunanetra.
Alih-alih melihat keterbatasan penglihatan sebagai hambatan utama, direktori ini justru menempatkan tunanetra sebagai bagian dari talenta kerja yang memiliki kompetensi, keterampilan, dan nilai tambah bagi industri.
Kepala Bagian Direktori Tenaga Kerja Mitra Netra, Aria Indrawati, mengatakan direktori tersebut disusun untuk menjawab kesenjangan informasi yang selama ini membuat banyak perusahaan ragu merekrut tenaga kerja tunanetra. Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada kemampuan penyandang tunanetra, melainkan masih terbatasnya pemahaman perusahaan dalam menciptakan sistem kerja yang inklusif.
“Partisipasi seluruh warga negara, termasuk penyandang disabilitas, sangat menentukan keberhasilan Indonesia Emas 2045,” ujar Aria saat menghadiri peringatan 35 tahun Yayasan Mitra Netra di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Aria menjelaskan, banyak perusahaan masih belum membedakan antara aksesibilitas dan akomodasi kerja. Padahal, keduanya menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang inklusif. Aksesibilitas mencakup penyediaan fasilitas fisik maupun digital yang memungkinkan tunanetra bekerja secara mandiri, sementara akomodasi berkaitan dengan penyesuaian kebutuhan individu sesuai peran dan tanggung jawabnya.
“Dua hal ini harus berjalan beriringan agar tunanetra dapat bekerja optimal dan produktif,” katanya.
Direktori Pekerjaan Tunanetra Indonesia memuat 36 profesi yang telah dijalani penyandang tunanetra di Indonesia. Ragam profesi itu tersebar di tujuh sektor strategis, mulai dari teknologi, kebijakan publik, administrasi, komunikasi, pendidikan, keuangan, hingga profesi profesional seperti psikolog dan pengacara.
Kehadiran direktori ini sekaligus mematahkan anggapan lama bahwa ruang kerja penyandang tunanetra hanya terbatas pada sektor informal atau pekerjaan tertentu. Cerita para pekerja tunanetra yang telah lebih dulu terjun ke dunia profesional menjadi bukti bahwa inklusi kerja bukan sekadar wacana.
Salah satunya datang dari Sigit Yulyadi, penyandang tunanetra yang kini bekerja sebagai digital customer service di sektor ritel. Dengan dukungan teknologi pembaca layar, Sigit mampu menjalankan tugasnya secara mandiri dan memenuhi standar kerja perusahaan.
“Dengan bantuan teknologi saya bisa menangani kebutuhan pelanggan secara mandiri dan tetap memenuhi standar perusahaan,” ujar Sigit.
Pengalaman serupa dibagikan Andira Pramatyasari, penyandang tunanetra yang kini bertugas sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Biro Hukum Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Bagi Andira, keterbatasan penglihatan tidak menjadi penghalang untuk bekerja di bidang yang menuntut ketelitian, analisis, dan komunikasi publik.

“Saya membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan tidak menghalangi untuk berkontribusi dalam pekerjaan yang membutuhkan analisis hukum dan komunikasi publik,” kata Andira.
Dari sisi dunia usaha, keterlibatan pekerja tunanetra juga dinilai memberi dampak positif bagi kualitas layanan dan pengembangan produk.
CEO Imamatek, Agung Sachli, mengatakan kehadiran pekerja tunanetra justru membantu perusahaan menghasilkan produk digital yang lebih adaptif dan ramah pengguna.
Menurut Agung, pekerja tunanetra memiliki sensitivitas tinggi dalam menguji alur aplikasi, terutama dari sisi pengalaman pengguna dan aksesibilitas.
“Kehadiran mereka membantu kami menghasilkan produk yang lebih berkualitas,” ujarnya.

PT. Integritas Makmur Mandiri
Hal serupa dirasakan Jakarta Eye Center (JEC), yang menempatkan tenaga kerja tunanetra di lini contact center. Human Capital JEC, Galuh Ahmad, mengatakan tenaga kerja tunanetra mampu memberikan layanan profesional dengan dukungan teknologi dan pelatihan yang tepat.
“Mereka tidak hanya profesional, tetapi juga menghadirkan empati yang kuat dalam melayani pasien,” kata Galuh.
Melalui direktori ini, Mitra Netra ingin mendorong perubahan cara pandang dunia kerja: bahwa inklusivitas bukan semata soal membuka ruang, tetapi juga tentang mengakui kompetensi.
Sebagai bagian dari upaya itu, Mitra Netra juga menyediakan layanan pendampingan bagi perusahaan yang ingin merekrut tenaga kerja tunanetra, mulai dari identifikasi posisi kerja, penyesuaian lingkungan kerja, hingga pelatihan interaksi di tempat kerja. Di tengah kebutuhan industri yang semakin adaptif, kehadiran pekerja tunanetra bukan lagi soal belas kasih, melainkan soal kompetensi yang layak diberi ruang.
**Benksu

