Uritanet – JAKARTA, 9 September 2026 – Transformasi industri tidak hanya mendorong perusahaan meningkatkan produktivitas dan efisiensi, tetapi juga menuntut penerapan teknologi keselamatan kerja yang semakin adaptif terhadap berbagai risiko di lapangan.
Perkembangan teknologi keselamatan kini bergerak dari sekadar menyediakan alat pelindung diri (APD) menuju solusi yang mampu membantu perusahaan mengantisipasi, mendeteksi, dan merespons potensi bahaya secara lebih cepat dan tepat.
Kebutuhan tersebut menjadi semakin relevan di tengah kompleksitas risiko industri, mulai dari kecelakaan kerja, kebakaran, paparan gas berbahaya, hingga asap yang dapat muncul akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar wilayah operasional.
Data BPJS Ketenagakerjaan yang disampaikan Menteri Ketenagakerjaan mencatat sebanyak 319.224 klaim kecelakaan kerja sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, 9.834 kasus tercatat sebagai fatality. Kondisi ini menunjukkan bahwa penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) masih membutuhkan perhatian serius, terutama pada sektor berisiko tinggi seperti pertambangan, minyak dan gas, konstruksi, manufaktur, dan energi.

PT Wahana Safety Indonesia (WSI) melihat perkembangan tersebut sebagai momentum bagi industri untuk mengubah cara pandang terhadap keselamatan kerja. Teknologi dan solusi keselamatan dinilai tidak lagi sekadar menjadi perangkat perlindungan, tetapi bagian dari strategi perusahaan dalam menjaga keberlangsungan operasional.
“Di tengah tuntutan produktivitas dan efisiensi, keselamatan harus tetap menjadi prioritas. Risiko yang dihadapi industri juga terus berkembang, termasuk risiko kebakaran dan paparan asap. Karena itu, perusahaan perlu melihat kebutuhan keselamatan secara lebih menyeluruh sesuai dengan kondisi operasionalnya,” ujar Fransiscus B. Hermanto, Sales & Marketing Director PT Wahana Safety Indonesia.
Dari APD Menuju Ekosistem Teknologi Keselamatan
Perubahan pendekatan tersebut diperlihatkan WSI melalui partisipasinya di GIFA Indonesia 2026, bagian dari Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series – Engineering Week 2026 yang berlangsung pada 9–12 September 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta.
Di ajang tersebut, WSI tidak hanya membawa produk perlindungan personal, tetapi juga memperkenalkan pendekatan solusi keselamatan yang disesuaikan dengan karakter risiko di masing-masing lingkungan kerja.
Portofolio yang dihadirkan mencakup head protection, respiratory protection, eye and face protection, hand protection, protective apparel, safety footwear, fall protection, gas detection, hingga fire safety.
Salah satu perhatian WSI adalah meningkatnya kebutuhan terhadap sistem perlindungan dari risiko kebakaran dan paparan asap. Untuk itu, WSI memperkuat portofolio fire safety melalui solusi terbaru Allsafe FireGuard.
Dalam pengembangan solusi tersebut, WSI menggandeng principal dan mitra global yang memiliki keahlian spesifik, di antaranya Rosenbauer untuk solusi fire safety dan Sundström Safety untuk respiratory protection.
Kolaborasi dengan mitra global tersebut memungkinkan WSI menghadirkan teknologi dan solusi keselamatan yang mencakup berbagai tahapan perlindungan, mulai dari perlindungan individu hingga kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat.
Pendekatan ini juga memperlihatkan bahwa teknologi keselamatan semakin terintegrasi dengan kebutuhan operasional perusahaan. Pemilihan perangkat tidak lagi cukup berdasarkan jenis produk, tetapi harus mempertimbangkan jenis bahaya, tingkat paparan, lingkungan kerja, hingga skenario keadaan darurat yang mungkin terjadi.

Teknologi Harus Berangkat dari Risiko
Menurut WSI, tantangan terbesar dalam penerapan teknologi keselamatan bukan hanya ketersediaan produk, melainkan kemampuan perusahaan mengidentifikasi risiko secara tepat sebelum menentukan teknologi atau perangkat perlindungan yang digunakan.
Fransiscus menilai pendekatan tersebut penting agar investasi perusahaan di bidang K3 benar-benar memberikan manfaat bagi operasional.
“Kami ingin mengubah percakapan dari sekadar ‘produk apa yang dibutuhkan?’ menjadi ‘risiko apa yang sebenarnya perlu kita lindungi?’. Ketika risikonya dipahami dengan tepat, perusahaan dapat menentukan solusi perlindungan yang lebih relevan dengan kondisi operasionalnya,” kata Frans.
Dengan pendekatan berbasis risiko, teknologi keselamatan dapat ditempatkan sebagai bagian dari strategi operational reliability. Artinya, investasi K3 tidak hanya ditujukan untuk mengurangi potensi kecelakaan, tetapi juga membantu perusahaan menjaga produktivitas dan meminimalkan gangguan operasional akibat insiden keselamatan.
Bagi WSI, perkembangan teknologi keselamatan ke depan akan semakin erat dengan kebutuhan industri untuk membangun sistem kerja yang aman, responsif, dan berkelanjutan.
Melalui GIFA Indonesia 2026 dan IEE Series 2026, WSI mendorong pelaku industri untuk melihat K3 bukan sebagai biaya tambahan, melainkan sebagai investasi teknologi yang mendukung keselamatan pekerja sekaligus business continuity.

Di tengah tuntutan industri untuk semakin efisien dan produktif, teknologi keselamatan menjadi salah satu elemen penting agar transformasi industri tetap berjalan tanpa mengorbankan faktor manusia.
**Benksu

