Jakarta ! Uritanet.com –
Riuh sorak sorai penggemar mendengarnya,
Alunan nada yang didengarkan …
hingga melihat dua puluh dua orang menggiring benda demi mencapai kemenangan.
Terdapat harap yang tidak pernah padam terus menyala hingga “sampai”.
Mau dan mampu,
mewakili dua substansi yang terus menjadi orientasi dalam menjalani,
Kalimat yang dulu ditulis sebagai pengingat ketika jatuh, saat terjadi tak bingung dalam memaknai.

Agaknya terlalu meromantisasi tragedi, tapi itulah yang jadi kunci untuk sabar dalam menjalani.
Beragam subjek “besar” mengucapkan harap untuk kami,
mungkin mereka dititipkan Dia untuk menyemangati.
Tak tau harap siapa yang didengar,
semoga hal baik tersebut kembali kepada siapa yang pernah mengucapkan.
Dia tau seberapa kuat kami, oleh karena itu kami telah diuji.
Dalam pandangan lain mungkin kami kurang bederma baik dalam bersosial.
Apapun komponennya yang jelas, kami siap menerima dan menjalani untuk mencapai kata sampai.

Bila boleh diimplikasikan ini semua layaknya perang Baratayuda. Harapan dan kekuatan menjadi Pandawa serta putus asa dan keraguan menjadi Kurawa.
Setiap subjek punya interpretasi sendiri dalam memaknai Baratayuda tapi yang selalu jadi sorotan “Baratayuda bukan hanya perang kerajaan tapi perang untuk bangkit dalam keterpurukan”.
Oleh karena itu,
tiap insan mengantongi kurusetra,
di dalam dada tempat harap dan ragu berebut takhta.
Dari biyang tersugesti bahwa,
Nanging sastra nala pathi
Tansah setya mangaribawani
)**by Yuri Aghnia Pribadi

