Riau ! Uritanet.com –
Dalam rangka menyambut Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia 2026, Belantara Foundation berkolaborasi dengan mitra sektor swasta Jepang untuk melakukan aksi penanaman pohon secara simbolis di Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim (Tahura SSH), Provinsi Riau pada 2 Juni 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya signifikan dalam menjaga ekosistem dan memulihkan lahan yang terdegradasi. Penanaman bibit pohon langka, seperti balangeran (Shorea balangeran), adalah simbol harapan dan komitmen dalam melestarikan keanekaragaman hayati di Indonesia.
Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna, mengingatkan pentingnya restorasi ekosistem dalam konteks global. Dengan adanya deklarasi the UN Decade on Ecosystem Restoration oleh Sidang Majelis Umum PBB, dunia kini berkomitmen untuk memulihkan 1,5 miliar hektar lahan terdegradasi pada tahun 2030.

Pendekatan kolaboratif ini tidak hanya diharapkan mampu mengurangi dampak perubahan iklim, tetapi juga meningkatkan ketahanan pangan, menjaga suplai air, dan melindungi keanekaragaman hayati yang terus terancam.
Tema “Rangelands: Recognize. Respect. Restore” pada peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia ini mengajak masyarakat untuk sadar dan berkontribusi aktif dalam pelestarian lingkungan. Keterlibatan sektor swasta sangat vital dalam mendukung upaya pemulihan lahan terdegradasi ini, sekaligus sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Program “Forest Restoration Project: SDGs Together” yang telah berjalan sejak 2020 ini, bertujuan untuk mengembalikan fungsi ekosistem hutan yang terdegradasi.
Melalui aktivitas penanaman pohon, diharapkan dampak positif dapat dirasakan oleh masyarakat lokal dengan meningkatkan kualitas lingkungan serta memulihkan habitat satwa liar. Komitmen kolaboratif berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan dalam mencapai tujuan ini.
Tan Ui Sian, Representative Director APP Japan Ltd., menyatakan bahwa pihaknya akan menggerakkan multi-stakeholders di Jepang agar lebih aktif dalam mendukung proyek ini, dengan fokus pada SDGs ke-12, 13, 15, dan 17.
Kerja sama ini diharapkan memberikan dampak signifikan bagi upaya restorasi bukan hanya di Indonesia, tetapi juga secara global.
Kepala KPHP Minas Tahura, Sri Wilda Hasibuan, menambahkan bahwa kawasan Tahura SSH, dengan luas lebih dari 6.000 hektar, merupakan tempat yang sangat penting bagi konservasi alam.
Namun, kawasan ini menghadapi ancaman serius akibat deforestasi dan degradasi yang disebabkan oleh perambahan dan pembalakan liar. Oleh karena itu, sinergi antar pemangku kepentingan sangat dibutuhkan untuk melindungi dan memulihkan kawasan ini.
Dengan mengambil langkah nyata dalam restorasi hutan, bersama-sama kita dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi masa depan lingkungan hidup.
Mari kita satukan visi dan aksi untuk menghadapi tantangan perubahan iklim dan degradasi lahan demi generasi mendatang.
)**Tjoek / Foto Ist.

