Uritanet – Jakarta, 21 April 2026 — Di tengah cepatnya perubahan zaman, pendidikan tak lagi bisa dipandang sebagai ruang yang eksklusif milik sekolah. Ia kini berkembang menjadi ekosistem luas yang melibatkan banyak pihak—dari komunitas, keluarga, hingga industri. Inilah semangat yang diangkat dalam gelaran Belajaraya Jakarta 2026, sebuah festival pendidikan yang menegaskan bahwa belajar adalah urusan bersama.
Digelar pada 2 Mei 2026 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional di Taman Ismail Marzuki, Belajaraya hadir bukan sekadar sebagai acara, melainkan ruang temu bagi berbagai gagasan, praktik baik, dan kolaborasi lintas sektor. Mengusung tema

“Merayakan Kerja Barengan untuk Ekosistem Pendidikan”, ajang ini mencoba menjawab tantangan pendidikan Indonesia yang semakin kompleks.
Selama ini, pendidikan kerap disederhanakan sebagai aktivitas di dalam kelas. Namun menurut Najelaa Shihab, cara pandang tersebut justru menjadi salah satu tantangan terbesar. Ia menekankan bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya berfokus pada capaian akademik, melainkan juga perubahan perilaku dan kontribusi nyata dalam masyarakat.
Melalui jaringan Semua Murid Semua Guru, yang telah berkembang dari puluhan menjadi lebih dari 1.000 komunitas, Belajaraya menunjukkan bahwa gerakan pendidikan berbasis komunitas kini semakin meluas. Bahkan pada 2026, rangkaiannya menjangkau sembilan kota—melampaui capaian tahun-tahun sebelumnya.
Ketua Umum SMSG, Marsya Nurmaranti, menegaskan bahwa kolaborasi adalah kunci utama. Menurutnya, tidak ada satu pihak pun yang mampu menyelesaikan persoalan pendidikan sendirian.
Justru, kekuatan terletak pada kerja bersama lintas sektor—mulai dari pemerintah, komunitas, hingga swasta. Pandangan ini sejalan dengan yang disampaikan Rizki Ameliah, yang melihat pendidikan saat ini semakin dinamis, terutama karena pengaruh teknologi. Ia menilai bahwa kemajuan seperti kecerdasan buatan bukan untuk ditakuti, melainkan dimanfaatkan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat.
Di sisi lain, isu inklusivitas juga menjadi sorotan penting. Akses pendidikan bagi penyandang disabilitas memang menunjukkan kemajuan, namun tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi dan pelatihan benar-benar dapat diakses oleh semua. Hal ini disampaikan oleh Stefani Herlie dan Marthella Sirait, yang menyoroti pentingnya desain pembelajaran yang inklusif, terutama di era digital.

Tak hanya itu, Belajaraya juga menjadi medium literasi yang lebih luas, termasuk dalam pemahaman ekonomi. Melalui program “Cinta, Bangga, Paham Rupiah”, Fenty Tirtasari Ekarina menjelaskan pentingnya edukasi masyarakat tentang fungsi uang sebagai simbol negara dan alat ekonomi.
Menariknya, Belajaraya tidak hadir dalam format konvensional. Festival ini menghadirkan berbagai ruang interaktif seperti Ngobrol Publik, Kelas Belajar, Pameran Karya, hingga pertunjukan musik.
Sejumlah tokoh lintas sektor seperti Meutya Hafid, Nasaruddin Umar, Quraish Shihab, Najwa Shihab, hingga Nikita Willy turut ambil bagian, bersama musisi seperti Andien dan Endah n Rhesa.
Kehadiran berbagai figur ini mempertegas satu pesan utama: pendidikan adalah tanggung jawab kolektif. Lebih dari sekadar festival, Belajaraya 2026 menjadi simbol perubahan—bahwa masa depan pendidikan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, tetapi oleh seberapa kuat kolaborasi yang dibangun hari ini.
Pada akhirnya, Belajaraya mengajak publik untuk melihat pendidikan dari perspektif yang lebih luas. Bahwa belajar bisa terjadi di mana saja, oleh siapa saja, dan untuk siapa saja. Dan mungkin, di sinilah masa depan pendidikan Indonesia sedang dibentuk—melalui kerja barengan.
**Benksu

