Di Era AI, Peran Jurnalis Kian Vital

Showcasing Google AI Tools (Google AI Labs Curriculum) yang digelar Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Selasa (31/3/2026) Foto : Benksu/Uritanet.com
Bagikan ke orang lain :

Uritanet – JAKARTA  31 Maret 2026 Di tengah riuhnya perkembangan kecerdasan buatan, sebuah pertanyaan mendasar kembali mengemuka: masihkah jurnalisme dibutuhkan ketika mesin bisa menulis berita dalam hitungan detik?
Jawabannya, menurut Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers, Dahlan Dani, justru semakin penting.

Dalam suasana diskusi yang berlangsung hangat di acara Showcasing Google AI Tools (Google AI Labs Curriculum) yang digelar Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Selasa (31/3/2026), Dahlan mengajak publik melihat jurnalisme dari sudut pandang yang lebih dalam—bukan sekadar profesi, melainkan fondasi keseimbangan dalam masyarakat.

Dahlan Dahi, Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers

“Kalau semua orang bisa membuat dan menyebarkan informasi, lalu siapa yang memastikan kebenarannya?” kira-kira itulah kegelisahan yang ingin ia sampaikan.

Jurnalisme, Penjaga Keseimbangan yang Tak Terlihat

Di balik derasnya arus informasi, jurnalisme memegang peran yang sering kali tak kasat mata: menjadi mekanisme koreksi dalam kehidupan publik.

Dahlan menggambarkan peran ini setara pentingnya dengan polisi atau pemadam kebakaran—hadir bukan setiap saat terlihat, tetapi krusial ketika dibutuhkan.

Tanpa jurnalisme, masyarakat berisiko kehilangan self-correcting mechanism, sebuah sistem alami untuk mengoreksi kesalahan dan menjaga agar kekuasaan tidak berjalan tanpa pengawasan.

Dalam dunia yang semakin bising oleh opini dan informasi instan, fungsi kontrol sosial ini justru menjadi semakin relevan.
Dari Mesin Cetak ke Mesin Cerdas

Dahlan mengajak audiens menoleh ke belakang. Selama ratusan tahun, industri media nyaris tidak berubah hingga internet hadir di akhir 1990-an. Kehadiran mesin pencari seperti Google membuka gerbang distribusi informasi yang sebelumnya terbatas oleh biaya dan infrastruktur. Namun, perubahan yang dulu berlangsung selama dua dekade kini terasa dipercepat secara drastis oleh AI.

Teknologi seperti ChatGPT, yang muncul pada 2022, bukan hanya membantu mencari informasi, tetapi langsung menyajikan jawaban lengkap—bahkan terus belajar dan berkembang. Lebih jauh lagi, konsep agentic AI mulai diperkenalkan: sistem yang bukan hanya memberi rekomendasi, tetapi mampu mengambil keputusan dan menjalankan tugas secara mandiri.

Dalam konteks media, ini berarti mesin bisa menulis berita, membuat ringkasan, hingga mendistribusikannya tanpa campur tangan manusia. Sebuah lompatan yang bukan hanya cepat, tetapi juga mengubah “aturan main”.

Antara Ancaman dan Peluang

Meski demikian, Dahlan tidak melihat teknologi sebagai musuh. Ia justru menekankan bahwa AI adalah alat—yang bisa menjadi ancaman atau peluang, tergantung bagaimana manusia menggunakannya.

Bagi jurnalis, tantangannya bukan sekadar bisa memakai teknologi, tetapi memahami cara kerjanya secara mendalam. Adaptasi, strategi baru, dan reskilling menjadi kata kunci agar tetap relevan di era ini.

“Yang penting bukan hanya tahu cara pakai, tapi paham substansinya,” pesannya.

Citra Dyah Prastuti, Wakil Ketua Umum AMSI

Ketika Generasi Muda Mulai Menjauh

Di balik semua optimisme itu, ada satu kekhawatiran yang mengemuka: semakin sedikit anak muda yang ingin menjadi jurnalis.

Dahlan mencontohkan penurunan drastis jumlah mahasiswa jurnalistik di Universitas Indonesia—dari puluhan hingga akhirnya nihil. Fenomena ini bukan sekadar angka, tetapi sinyal peringatan.

Jika tidak ada regenerasi, siapa yang akan menjalankan fungsi kontrol sosial di masa depan?
Kekhawatiran ini diperparah oleh lemahnya perlindungan terhadap karya jurnalistik. Di era digital, konten berita bisa dengan mudah disalin tanpa konsekuensi, menggerus nilai kerja jurnalistik yang seharusnya dijaga.

Kolaborasi, Bukan Kompetisi

Di sisi lain, hubungan antara media dan platform teknologi juga menjadi sorotan. Dahlan menilai bahwa kolaborasi tetap penting, selama media tidak kehilangan sikap kritisnya.

Ia mengapresiasi langkah Google yang masih memberi ruang bagi konten berita, di tengah kecenderungan beberapa platform lain yang mulai menjauh dari jurnalisme.

Namun, satu prinsip yang tidak boleh dilupakan: kendali atas informasi harus tetap berada di tangan manusia.

Menjaga Peran Manusia di Era Mesin

Pada akhirnya, diskusi ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang masa depan manusia itu sendiri.

Di tengah dunia yang mulai diwarnai oleh dua “kecerdasan” manusia dan mesin—pertanyaan besarnya bukan lagi apakah AI akan menggantikan jurnalis, melainkan apakah manusia masih mau mengambil peran untuk menjaga kebenaran.

Karena, seperti yang diingatkan Dahlan, tanpa kontrol sosial, keseimbangan bisa runtuh kapan saja. Dan di situlah jurnalisme menemukan kembali maknanya—bukan sekadar menyampaikan berita, tetapi menjaga agar dunia tetap waras.

**Benksu

Bagikan ke orang lain :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *