Sekolah Jadi Laboratorium Perdamaian bagi Generasi Alpha

Bagikan ke orang lain :

Uritanet – Jakarta, 6 Maret 2026 – Ketika dunia dihadapkan pada meningkatnya ketegangan geopolitik, polarisasi ideologi, hingga maraknya ujaran kebencian di ruang digital, upaya menjaga perdamaian tidak lagi cukup hanya melalui diplomasi antarnegara. Pendidikan sejak dini dinilai menjadi kunci untuk membangun fondasi perdamaian yang lebih berkelanjutan.

Pendekatan inilah yang diusung oleh HighScope Indonesia melalui program tahunan Peace, Tolerance, Respect (PTR), sebuah kegiatan lintas agama yang dirancang untuk menanamkan sikap saling menghargai pada siswa sejak usia sekolah. Program ini diselenggarakan oleh Research & Development for Advancement (Redea) Institute, lembaga yang sebelumnya dikenal sebagai HighScope Indonesia Institute.

Di tengah meningkatnya polarisasi global, pendidikan toleransi dinilai semakin relevan. Laporan Risiko Global 2026 menempatkan konfrontasi geoekonomi sebagai salah satu ancaman utama dunia. Sementara itu, data UNESCO menunjukkan dua dari tiga orang di dunia kini terpapar ujaran kebencian di ruang digital—sebuah kondisi yang berpotensi memicu konflik sosial bila tidak diimbangi dengan kematangan karakter.

Melalui kegiatan PTR, sekolah berupaya menjadikan ruang belajar sebagai “laboratorium kehidupan” yang menumbuhkan empati, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman.

“Sekolah HighScope Indonesia teaches students to respect differences, to allow differences, to encourage differences, until differences no longer make a difference,” demikian prinsip yang menjadi landasan pendidikan di sekolah tersebut.

Belajar Toleransi Lewat Pengalaman Nyata

Program PTR telah diselenggarakan secara konsisten sejak 2004 dan rutin digelar setiap bulan Ramadan dengan melibatkan seluruh siswa dari berbagai latar belakang agama, mulai dari Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, hingga Buddha.

Kegiatan ini diikuti siswa mulai dari kelas 4 sekolah dasar hingga tingkat sekolah menengah atas di seluruh jaringan Sekolah HighScope Indonesia.

Siswa sekolah dasar dan menengah pertama mengikuti kegiatan selama dua hari satu malam di sekolah, sementara siswa SMA menjalani program satu hari penuh hingga setelah salat tarawih.

Rangkaian kegiatan dirancang dalam dua sesi utama. Pada sesi lintas agama, para siswa diajak mendiskusikan nilai-nilai universal yang menjadi titik temu semua keyakinan, seperti penghormatan terhadap sesama manusia dan makhluk hidup.

Setelah itu, para siswa mengikuti sesi pendalaman iman sesuai agama masing-masing bersama pemuka agama. Misalnya, ketika siswa Muslim melaksanakan salat Isya dan Tarawih berjamaah, siswa dari agama lain mengikuti diskusi spiritual di ruang terpisah yang membahas implementasi nilai-nilai keimanan dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan ini bertujuan agar siswa tidak hanya memahami toleransi secara konsep, tetapi juga mempraktikkannya secara nyata.

Dialog Lintas Tokoh Agama

Di Sekolah HighScope Indonesia TB Simatupang, kegiatan PTR diawali dengan sesi pembukaan yang diikuti seluruh siswa, dilanjutkan dengan talkshow bersama sejumlah tokoh lintas komunitas.

Beberapa pembicara yang hadir antara lain Rizkiana Alba M.Ed dari Wahid Foundation, KH Julian Lukman Lc selaku Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Jakarta Selatan, serta Suraji dari Jaringan Gusdurian.

Selain itu, kegiatan juga menghadirkan sejumlah tokoh pendidikan dan sosial, seperti Founder Yayasan Angel Heart Linda Anugrah serta Wakil Ketua Baznas Kota Palembang Muhammad Syukri Soha.

Melalui diskusi tersebut, para siswa diajak memahami pentingnya menghormati perbedaan dalam kehidupan sosial yang semakin kompleks, terutama di era digital.

Berbagi dengan Komunitas

Tidak hanya berdiskusi, para siswa juga diajak mempraktikkan nilai empati melalui kegiatan sosial. Di Sekolah HighScope Indonesia Medan dan Denpasar, siswa kelas 4 hingga 9 bekerja sama menyiapkan takjil untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar sekolah.

Sementara di Palembang, siswa mengisi waktu menjelang berbuka puasa dengan berbagai pertunjukan kreatif, seperti musik, pantun bertema toleransi, hingga storytelling yang menyampaikan pesan kebaikan.

Kegiatan-kegiatan tersebut dirancang untuk menumbuhkan kesadaran bahwa nilai toleransi tidak hanya dipahami, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan nyata.

Pendidikan untuk Perdamaian Global

Sejak berdiri pada 1996, HighScope Indonesia menempatkan pendidikan karakter sebagai bagian penting dari proses belajar. Ke depan, sekolah ini juga akan memasuki babak baru dengan perubahan nama menjadi Sekolah Eco Socio Tech mulai Juli 2026.

Transformasi tersebut tetap membawa misi utama: membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki empati sosial dan kemampuan hidup dalam masyarakat global yang beragam.

Melalui program seperti PTR, sekolah berharap dapat membekali Generasi Alpha dengan “imunitas sosial” untuk menghadapi dunia yang semakin terhubung namun penuh tantangan.

Karena pada akhirnya, perdamaian global tidak hanya dibangun oleh para pemimpin dunia—tetapi juga oleh generasi muda yang sejak dini belajar untuk saling menghargai perbedaan.

**Benksu

Bagikan ke orang lain :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *