Jakarta ! Uritanet.com –
Letjen TNI (Purn) Prof. Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K) RI kembali menjadi sorotan publik. Dokter militer yang dikenal luas melalui metode terapi stroke yang populer dengan istilah ‘cuci otak’ ini kini dipercaya sebagai Penasihat Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang Kesehatan Nasional.
Penunjukan tersebut mempertegas kiprahnya dalam lanskap kesehatan nasional yang terus berkembang.
Dr. Terawan Agus Putranto lahir di Yogyakarta, 5 Agustus 1964. Ia menempuh pendidikan dasar dan menengah di Kota Pelajar, yakni SMP Negeri 2 Yogyakarta dan SMA Bopkri 1 Yogyakarta. Sejak remaja, ia telah bercita-cita menjadi dokter.
Ia diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dan lulus pada tahun 1990 pada usia 26 tahun.
Semangat akademiknya tidak berhenti di sana. Ia melanjutkan pendidikan Spesialis Radiologi di Universitas Airlangga dan menyelesaikannya pada 2004.
Gelar doktor (S3) diraih dari Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin dengan fokus riset pada penanganan stroke iskemik kronis.
Karier Militer dan Dunia Kedokteran
Setelah lulus sebagai dokter, dr. Terawan bergabung dengan TNI Angkatan Darat melalui Korps Kesehatan Militer. Ia pernah bertugas di Bali, Lombok, hingga Jakarta. Dedikasinya dalam dunia medis militer membawanya masuk dalam jajaran Tim Dokter Kepresidenan pada 2009.
Kariernya semakin menanjak saat pada 2015 ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto dengan pangkat Mayor Jenderal.
Ia juga aktif dalam organisasi profesi internasional, termasuk sebagai Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Radiologi Indonesia, Ketua World International Committee of Military Medicine, serta Ketua ASEAN Association of Radiology.
Metode ‘Cuci Otak’ dan Kontroversinya
dr. Terawan identik dengan metode Brain Flushing atau yang dikenal publik sebagai ‘cuci otak’. Metode ini berangkat dari disertasinya berjudul Efek Intra Arterial Heparin Flushing terhadap Regional Cerebral Blood Flow, Motor Evoked Potentials, dan Fungsi Motorik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Kronis.
Metode tersebut diklaim mampu membantu memperbaiki aliran darah otak pada pasien stroke iskemik kronis. Sejumlah pasien menyatakan merasakan perbaikan signifikan dalam waktu relatif singkat pasca tindakan medis. Terapi ini bahkan disebut telah diterapkan hingga ke luar negeri.
Namun, metode ini juga menuai perdebatan di kalangan akademisi dan organisasi profesi kedokteran. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sempat menyatakan keberatan terhadap aspek ilmiah dan prosedural terapi tersebut.
Polemik itu menjadi bagian dari dinamika profesional yang menyertai inovasi di dunia medis.
Penghargaan dan Pengakuan
Terlepas dari kontroversi, dr. Terawan menerima sejumlah penghargaan atas inovasinya. Ia memperoleh dua rekor MURI terkait terapi ‘cuci otak’ dan penerapan Digital Subtraction Angiogram (DSA). Ia juga menerima Lifetime Achievement Award dari Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (Leprid).
Sejumlah tokoh publik dan pejabat diketahui pernah menjadi pasiennya, termasuk Prabowo Subianto dan Aburizal Bakrie. Pengakuan mereka terhadap pengalaman terapi tersebut turut memperluas sorotan publik terhadap metode yang dikembangkannya.
Menteri Kesehatan dan Penasihat Khusus Presiden
Pada Oktober 2019, Presiden Joko Widodo menunjuk dr. Terawan sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia dalam Kabinet Indonesia Maju periode 2019–2024. Dalam masa jabatannya, ia menghadapi tantangan besar di sektor kesehatan nasional.
Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai menteri dan pensiun dini dari TNI dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal, kiprahnya berlanjut. Pada Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto resmi menunjuknya sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Kesehatan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 140/P Tahun 2024.
Penunjukan ini menjadi penegasan atas pengalaman panjangnya di bidang kesehatan militer, birokrasi, dan kebijakan publik.
Perjalanan dr. Terawan Agus Putranto adalah potret dinamika seorang dokter, prajurit, akademisi, dan pejabat publik dalam satu figur.
Ia dikenal inovatif sekaligus kontroversial. Ia dipuji sekaligus dikritik. Namun satu hal yang tidak terbantahkan, namanya telah menjadi bagian dari sejarah kebijakan dan inovasi kesehatan Indonesia.
Di tengah perdebatan dan tantangan, kepercayaan negara yang kembali diberikan kepadanya menjadi babak baru dalam perjalanan panjang pengabdian di dunia kesehatan nasional.
Publik kini menanti kontribusi nyata yang mampu memperkuat sistem kesehatan Indonesia secara berkelanjutan dan berintegritas.
)**Sgt / Tjoek / Foto Ist.

