Remaja Perlu Disiapkan Miliki Perencanaan dan Persiapan Kehidupan Berkeluarga

Share Article :

Uritanet, – Sebagai calon pasangan yang akan berkeluarga dan sebagai calon orangtua, remaja perlu disiapkan agar memiliki perencanaan dan persiapan kehidupan berkeluarga. Hal tersebut mengemuka dalam perbincangan “BKKBN Peduli Parenting Pada Keluarga Dengan Remaja” yang berlangsung di Hotel Karlita Kota Tegal, Kamis 10 November 2022, yang menghadirkan narasumber Komisi IX DPR RI Hj. Nur Nadlifah S. Ag, M.M, A.D Andriyanti, S.Psi, PSI, Psikolog , dan Aziz Aminudin, Terapis dan Ketua Yayasan Berdaya Indonesia.

Sebagai catatan bahwa pada faktanya hanya sedikit remaja yang mendapat informasi yang cukup mengenai pernikahan dari keluarga maupun lingkungan mereka. Karena kurang menyadari perlunya persiapan dan perencanaan sebelum menjalani kehidupan berkeluarga agar tercipta keluarga yang berkualitas. Keluarga berkualitas yakni keluarga yang bercirikan tenteram, mandiri, dan bahagia.

Sementara itu, adapun salah satu indikator dimensi ketenteraman adalah perceraian. Data BPS (2019) menunjukkan bahwa kasus perceraian tertinggi karena perselisihan dan pertengkaran terus menerus dan menimpa kelompok usia 20 – 24 tahun dengan usia pernikahan belum genap lima tahun. Tingginya angka perceraian pada kelompok tersebut sebagai akibat pernikahan yang dilakukan pada usia muda sehingga belum siap dalam menjalani kehidupan berkeluarga. Atau dengan kata lain, tingginya jumlah pasangan muda yang bercerai akibat ketidaksiapan mereka dalam menjalani perkawinan mengindikasikan banyaknya pasangan muda yang sesungguhnya belum memperhatikan kesiapan menikah.

Baca Juga :  Warga Tiga Kecamatan Di Distribusikan Kartu Indonesia Sehat BPJS Kesehatan Plt. Wali Kota Bekasi

Hal lain yang perlu diperhatikan pula bahwa ketidaksiapan berkeluarga juga berdampak pada generasi yang akan dilahirkan. Hasil studi pun menunjukkan bahwa ada faktor pendorong/faktor risiko yang bersumber dari pihak ibu dan ayah dari anak-anak yang stunting, yaitu usia, kondisi kekurangan gizi kronis, anemia, hingga keterpaparan asap rokok.

Padahal dari 2 juta pernikahan di Indonesia setiap tahunnya, 1,6 juta di antaranya langsung hamil di tahun pertama. 400 ribu dari 1,6juta yang hamil di tahun pertama pernikahannya tersebut melahirkan anak dengan kondisi stunting.

Baca Juga :  POMAD Virtual Run 2021, 22 Juni s/d 8 Juli

Kondisi ini menunjukkan, jika remaja sebagai calon pasangan tidak disiapkan agar memiliki perencanan dan kesiapan hidup berkeluarga, akan berkontribusi pada penambahan 400 ribu kelahiran anak dengan kondisi stunting setiap tahunnya.

Oleh karena itu, penting menyiapkan remaja agar memiliki kesiapan dan perencanaan dalam membangun keluarga, dan BKKBN sebagai salah satu instansi pemerintah turut berpartisipasi aktif dalam pembinaan remaja melalui Program Generasi Berencana (Genre).

Program Genre adalah program yang dikembangkan dalam rangka penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja sehingga mereka mampu melangsungkan jenjang pendidikan, berkarir dalam pekerjaan, serta menikah dengan penuh perencanaan sesuai siklus kesehatan reproduksi. Pendekatan yang dilakukan Program Genre melalui wadah Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK Remaja) dan Bina Keluarga Remaja (BKR).

)***tjoek

Share Article :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *