Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2026: Momentum Kolaborasi Nyata Menuju Indonesia Asri dan Rendah Karbon

Bagikan ke orang lain :

Jakarta ! Uritanet.com –

Seluruh elemen masyarakat Indonesia kembali memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) setiap 21 Februari sebagai refleksi atas tragedi longsor sampah di TPA Leuwigajah yang terjadi pada 21 Februari 2005. Peristiwa tragis tersebut merenggut banyak korban jiwa dan menjadi pengingat kuat bahwa pengelolaan sampah nasional tidak boleh lagi dipandang sebelah mata.

Pada peringatan HPSN 2026, Pemerintah Republik Indonesia mengusung tema “Kolaborasi Aksi untuk Gerakan Nasional Indonesia Asri (Aman, Sehat, Resik, dan Indah)”.

Tema ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun sistem pengelolaan sampah terintegrasi dari hulu ke hilir, mulai dari pemilahan sampah di sumber, pengangkutan, pengolahan, hingga daur ulang yang berkelanjutan.

Berdasarkan laporan Global Waste Management Outlook 2024, sebanyak 38 persen sampah global belum terkelola dengan baik. Kondisi ini berkontribusi langsung terhadap Triple Planetary Crisis, yaitu perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan polusi. Fakta ini mempertegas bahwa krisis sampah adalah krisis lingkungan global yang berdampak nyata pada kualitas hidup manusia.

Data terbaru dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2025 menunjukkan timbulan sampah nasional Indonesia mencapai 24,8 juta ton per tahun.

Dari jumlah tersebut, capaian pengelolaan sampah nasional baru mencapai 34,55 persen atau sekitar 8,5 juta ton per tahun yang terkelola dengan baik. Sebaliknya, sebesar 65,45 persen atau 16,3 juta ton per tahun masih belum tertangani secara optimal.

Lebih lanjut, pengelolaan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) menunjukkan bahwa 36,24 persen telah menggunakan metode sanitary landfill atau controlled landfill, sementara 63,76 persen masih menerapkan sistem open dumping.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa transformasi sistem pengelolaan sampah nasional masih membutuhkan percepatan kebijakan dan investasi teknologi.

Sektor rumah tangga tercatat sebagai penyumbang sampah terbesar dengan persentase 56,7 persen atau 7,2 juta ton per tahun. Sumber lainnya berasal dari sektor perniagaan sebesar 7,58 persen atau 972,2 ribu ton per tahun, pasar sebesar 1,7 juta ton per tahun, fasilitas publik sebesar 7,03 persen atau 899,7 ribu ton per tahun, kawasan sebesar 4,68 persen atau 598,6 ribu ton per tahun, serta kategori lainnya sebesar 6,13 persen atau 785,1 ribu ton per tahun.

Dan sektor perkantoran menjadi penyumbang paling kecil dengan persentase 4,22 persen atau 541,8 ribu ton per tahun.

Menanggapi kondisi tersebut, Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna, menegaskan bahwa strategi terpadu dalam pengelolaan sampah menjadi kunci mendukung mitigasi perubahan iklim sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat.

“Kombinasi strategi harus mencakup reformasi kebijakan, inovasi teknologi, kampanye kesadaran dan edukasi publik, serta partisipasi aktif masyarakat luas,” ujarnya.

Reformasi kebijakan harus menghadirkan regulasi tegas, insentif bagi praktik ramah lingkungan, dan sistem pengawasan yang konsisten. Inovasi teknologi perlu diarahkan pada pengolahan sampah berbasis daur ulang, pemanfaatan limbah menjadi energi, serta digitalisasi sistem pengumpulan sampah untuk meningkatkan efisiensi dan menekan pencemaran.

Di sisi lain, edukasi publik menjadi fondasi perubahan perilaku. Kesadaran untuk mengurangi, memilah, dan mengolah sampah sejak dari sumber harus dibangun melalui pendekatan partisipatif dan berkelanjutan.

Ketika masyarakat diberdayakan untuk mengelola sampah secara bertanggung jawab, mereka tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi berbasis ekonomi sirkular.

Dr. Dolly menegaskan bahwa pengelolaan sampah berkelanjutan bukan sekadar kewajiban lingkungan, melainkan langkah strategis menuju masa depan tangguh dan rendah karbon yang menguntungkan semua pihak, baik di tingkat lokal maupun global.

Peringatan HPSN 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi, mempercepat inovasi, dan memastikan setiap individu mengambil peran nyata. Krisis sampah tidak akan selesai dengan wacana. Krisis sampah menuntut aksi konkret, konsisten, dan terukur.

Kini saatnya Indonesia bergerak bersama. Dari rumah tangga hingga industri, dari komunitas hingga pemerintah, semua memiliki tanggung jawab yang sama untuk menghadirkan Indonesia yang aman, sehat, resik, dan indah. Karena ketika sampah dikelola dengan benar, masa depan tidak hanya terselamatkan, tetapi juga dimenangkan.

Indonesia tidak kekurangan solusi. Indonesia hanya membutuhkan keberanian untuk bertindak sekarang, bersama, dan tanpa kompromi. Untuk Bumi yang lestari, untuk generasi yang berdaya, mari kita mulai dari hari ini.

)**Yuri / Foto Ist.

Bagikan ke orang lain :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *