Jakarta ! Uritanet.com –
Senja di ibu kota selalu punya cara untuk mengajarkan makna. Di bawah langit jingga yang perlahan berganti malam, setiap langkah manusia sejatinya berjalan di atas harap dan doa.
Tidak ada yang benar-benar berdiri sendiri. Ada taulan, ada keluarga, ada sahabat, yang tanpa lelah menguatkan dalam diam.
Pada sebuah sore yang temaram, percakapan sederhana di pinggir jalan berubah menjadi renungan mendalam.
“Orang kecil hanya melangkah lewat harap, ujungnya Dia yang menjawab,” gumam itu terdengar lirih, namun menghentak batin.
Kalimat tersebut menjadi refleksi yang relevan bagi siapa pun yang sedang berjuang dalam hidupnya.

Makna Harap dan Ketetapan Ilahi
Dalam ajaran Islam, manusia diingatkan tentang keterbatasannya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Qur’an ayat 35:15, manusia adalah makhluk yang bergantung kepada-Nya. Dialah yang mengatur pergantian malam dan siang, menundukkan matahari dan bulan, dan menetapkan segala sesuatu menurut ukuran-Nya.
Nilai ini bukan sekadar teks, melainkan prinsip kehidupan. Kehidupan terbaik adalah kesadaran diri: manusia berikhtiar, Tuhan menentukan.
Ketika gelisah datang tanpa aba-aba, itu bukan tanda lemahnya iman, melainkan sinyal agar kembali menyadari posisi sebagai hamba.
Perjalanan, Ujian, dan Altimeter Kehidupan
Perjalanan hidup tidak hanya berbicara tentang posisi, jabatan, atau pencapaian. Ia adalah ruang belajar. Di bawah, seseorang diuji dengan kesabaran. Di atas, seseorang diuji dengan rasa syukur. Keduanya memiliki bobot yang sama.
Merasa hebat tanpa jeda evaluasi hanya akan menjauhkan dari makna. Sebaliknya, menyadari kekurangan adalah altimeter agar tidak terbang terlalu tinggi tanpa kendali.
Dalam konteks sosial, iri dan lupa diri sering menjadi jebakan. Karena itu, kedewasaan spiritual menuntut keseimbangan antara rendah hati dan percaya diri.
Taulan yang hadir dalam perjalanan bukan sekadar pelengkap cerita. Mereka adalah penguat ketika rapuh, pengingat ketika lalai, dan saksi ketika proses terasa berat. Emosional inilah yang membuat setiap perjalanan memiliki arti yang lebih dalam.
Syukur Sebagai Pilar Keteguhan
Berterima kasih tidak boleh menunggu keberlimpahan. Syukur bukan soal menguasai, melainkan soal menyadari. Latihan bersyukur melatih jiwa untuk tidak mudah tinggi hati saat di atas, dan tidak mudah putus asa saat di bawah.
Memaknai perjalanan bukan hanya tentang sampai di tujuan, tetapi tentang bagaimana melangkah dengan kesadaran penuh.
Harap tidak pernah sia-sia. Doa tidak pernah menguap tanpa makna. Setiap detik yang terasa resah adalah bagian dari proses pembentukan diri.
Pada akhirnya, manusia hanya berjalan membawa harap. Tuhan yang menentukan sampai atau tidaknya. Namun satu hal yang pasti, setiap langkah yang disertai doa dan kesadaran akan selalu menemukan jalannya sendiri.
Karena hidup bukan tentang siapa yang paling cepat tiba, melainkan siapa yang paling siap ketika sampai.
Dan ketika kesadaran itu benar-benar tertanam, gelisah berubah menjadi tenang, ragu berubah menjadi yakin, dan perjalanan terasa utuh dalam genggaman takdir-Nya.
Semoga setiap langkah yang kita pijak hari ini benar-benar mengantar pada tempat terbaik yang telah ditetapkan-Nya.
)**By Yuri Aghnia/ Foto Ist.

