Jakarta ! Uritanet.com –
Momentum bersejarah mewarnai pertengahan Februari 2026. Dua perayaan besar hadir berdekatan, yakni Tahun Baru Imlek pada 17 Februari dan awal Ramadan pada 19 Februari 2026. Kedekatan kalender ini menjadi simbol kuat harmoni kebangsaan yang diwujudkan secara nyata oleh komunitas CEO Indonesia dan Pengusaha Bela Bangsa (PBB) melalui kegiatan silaturahmi lintas budaya di Belleza, Suite Tower Albergo, Jakarta.
Mengusung tema “Perayaan Tahun Baru Imlek dan Buka Puasa Bersama”, acara ini menjadi ruang strategis yang mempertemukan para pengurus, anggota, serta mitra dalam suasana hangat, inklusif, dan penuh semangat persatuan.
Kegiatan ini sekaligus mempertegas komitmen CEO Indonesia dan Pengusaha Bela Bangsa dalam merawat kebinekaan sebagai fondasi kekuatan nasional.
Acara difasilitasi oleh Trisya Suherman yang akrab disapa Mba Icha. Dalam keterangannya kepada awak media, Icha menegaskan bahwa harmoni Imlek dan Ramadan bukan sekadar simbol perayaan, melainkan ruang refleksi kebangsaan.
“Harmoni Imlek dan Ramadan adalah kesempatan merawat Indonesiaku sekaligus memperdalam makna hidup bersama. Nilai keakraban, solidaritas, dan kebahagiaan dalam kebersamaan menjadi tujuan dari kegiatan ini,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa interaksi positif, komunikasi terbuka, dan peluang kolaborasi ekonomi menjadi jembatan untuk memperkuat relasi lintas komunitas. Menurutnya, perbedaan harus dikelola sebagai energi pemersatu.
“Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk dirangkai menjadi kekuatan bersama,” tuturnya.
Kegiatan ini turut dihadiri perwakilan pemerintah, pengurus KADIN Indonesia, serta tokoh pengusaha Tionghoa dan pengusaha nasional dari berbagai sektor. Para peserta berbaur dalam suasana yang cair.
Mereka berbagi pengalaman, memperluas jaringan bisnis, serta menjajaki peluang kerja sama strategis di tengah dinamika ekonomi nasional 2026.
Rangkaian acara berlangsung tertib dan khidmat. Selebrasi budaya Imlek berpadu dengan tradisi buka puasa Ramadan dalam satu ruang kebersamaan.
Secara substansi, kegiatan ini menegaskan bahwa keberagaman Indonesia bukan sekadar identitas formal. Keberagaman adalah modal sosial yang memiliki daya dorong ekonomi, daya tahan kebangsaan, serta daya rekat persatuan.
Silaturahmi lintas budaya yang digagas CEO Indonesia dan Pengusaha Bela Bangsa membuktikan bahwa kolaborasi adalah strategi nyata dalam membangun Indonesia yang inklusif dan berdaya saing.
Momentum Imlek dan Ramadan 2026 ini menjadi pengingat kuat bahwa di tengah perbedaan keyakinan dan latar belakang, bangsa Indonesia memiliki satu tujuan bersama.
Persatuan tidak lahir dari keseragaman. Persatuan lahir dari kematangan dalam menghargai perbedaan dan keberanian untuk bekerja bersama.
Ketika pelaku usaha, pemimpin komunitas, dan perwakilan ok pemerintah duduk dalam satu meja kebersamaan, maka di situlah masa depan Indonesia sedang dirancang. Harmoni bukan sekadar wacana.
Harmoni adalah aksi. Dan dari Jakarta, pesan itu bergema tegas: keberagaman adalah kekuatan, dan kolaborasi adalah jalan kemenangan bangsa.
Sebagaimana semangat yang terpancar dalam pertemuan ini, Indonesia akan terus berdiri kokoh selama persaudaraan dijaga dan perbedaan dirangkai menjadi kekuatan—karena dari harmoni, lahir masa depan yang gemilang dan tak tergoyahkan.
)**Git/ Tjoek/ Foto Ist

