Romang–Damer, Permata Laut yang Terlupakan: Jejak Dugong dan Terumbu Karang Ratusan Tahun di Maluku

Acara Talkshow Bincang Bahari bertajuk 'Permata Tersembunyi Indonesia Timur: Romang-Damer dan Masa Depan Konservasi Laut' di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Bagikan ke orang lain :

Uritanet Jakarta 5 Februari 2026 Jauh dari hiruk pikuk kota dan sorotan pariwisata massal, perairan Kepulauan Romang dan Damer di Maluku Barat Daya menyimpan kisah laut yang nyaris terlupakan. Di kawasan yang kerap dijuluki the forgotten island itu, kehidupan bawah laut tumbuh perlahan, tenang, dan bertahan lintas generasi.

Kisah tersebut kembali terungkap setelah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia melakukan Ekspedisi Romang Damer 2025. Selama lebih dari satu bulan, tim peneliti menyusuri darat dan laut, mendokumentasikan jejak keanekaragaman hayati yang selama bertahun-tahun jarang tersentuh riset komprehensif.

Hasilnya bukan temuan biasa. Lebih dari 30 individu dugong—mamalia laut yang kerap disebut “sapi laut”—terpantau hidup di perairan tersebut. Tak hanya itu, tim juga mencatat kemunculan paus orca serta mengidentifikasi struktur terumbu karang purba yang diperkirakan telah berusia 100 hingga 200 tahun.

“Temuan ini memiliki nilai ilmiah yang sangat tinggi dan menegaskan Romang–Damer sebagai kawasan dengan fungsi ekologis yang sangat strategis,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, dalam gelar wicara Bincang Bahari bertajuk Permata Tersembunyi Indonesia Timur: Romang–Damer dan Masa Depan Konservasi Laut di Jakarta, Kamis.

Bagi Koswara, Romang dan Damer bukan sekadar gugusan pulau kecil di peta Indonesia timur. Kawasan ini memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut sekaligus menopang kehidupan masyarakat pesisir yang bergantung pada perikanan dan kesehatan perairan.

Karang Tua yang Masih Bernapas

Dari sisi ekologis, ekspedisi menemukan kondisi terumbu karang yang tergolong baik. Tutupan karang hidup berada di kisaran 39 hingga 51 persen, dengan sejumlah koloni berukuran besar yang menandakan usia ratusan tahun.

“Karang itu koloni yang tumbuh sangat lambat. Kalau ukurannya sudah sebesar itu, kita bisa menduga usianya sudah lebih dari 100 sampai 200 tahun,” ujar Senior Project Manager WWF Indonesia, Hafizh Adyas.

Tak hanya terumbu karang, ekosistem lamun dan mangrove di Romang–Damer juga menunjukkan kondisi yang sehat. Lamun memiliki tingkat kerapatan sekitar 57 persen, dengan sembilan jenis yang teridentifikasi, termasuk spesies yang lebih tahan terhadap perubahan suhu.

Sementara itu, sedikitnya 43 spesies mangrove ditemukan dengan struktur ekosistem yang masih lengkap dan regenerasi alami yang berjalan optimal. Ketiga ekosistem ini—karang, lamun, dan mangrove—menjadi fondasi penting bagi kehidupan dugong dan berbagai spesies laut lain, termasuk lebih dari 200 spesies yang tergolong terancam, rentan, atau dilindungi.

Konservasi dan Harapan dari Timur

Sebagai bentuk perlindungan, perairan Romang dan Damer telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 4 dan Nomor 6 Tahun 2022. Pemerintah mendorong pengelolaan berbasis ilmu pengetahuan dengan melibatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama.

Pendekatan tersebut sejalan dengan kebijakan ekonomi biru, yang menempatkan perlindungan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat pesisir berjalan beriringan.

Ke depan, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, akademisi, mitra pembangunan, serta masyarakat lokal diharapkan mampu menjaga Romang–Damer tetap lestari—agar dugong, karang purba, dan kehidupan laut lainnya terus “bernapas” untuk generasi mendatang.

**Benksu

Bagikan ke orang lain :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *