Uritanet -Jakarta, 5 Januari 2026 — Perekonomian Indonesia menutup tahun 2025 dengan sejumlah indikator positif yang menunjukkan daya tahan di tengah dinamika global. Salah satu penopang utama adalah kinerja neraca perdagangan yang kembali mencatat surplus besar, sekaligus diikuti stabilitas inflasi, perbaikan kesejahteraan petani, peningkatan produksi pangan, serta pemulihan sektor pariwisata dan transportasi.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga November 2025 mencatat surplus US$38,54 miliar.
Angka ini meningkat US$9,30 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan memperpanjang tren surplus menjadi 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

“Surplus tersebut terutama ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang mencapai US$56,15 miliar, meskipun sektor migas masih mengalami defisit,” ujar Pudji Ismartini dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/1/2026).
Dari sisi ekspor, nilai pengiriman barang ke luar negeri tumbuh 5,61 persen secara tahunan, dengan industri pengolahan menjadi motor utama. Nilai ekspor sektor ini menembus US$205,93 miliar atau melonjak 14 persen, menandakan penguatan struktur ekspor bernilai tambah. Tiongkok, Amerika Serikat, dan India tetap menjadi pasar utama, menyumbang lebih dari 42 persen ekspor nonmigas nasional.
Di sisi impor, nilai total mencapai US$218,02 miliar atau naik 2,03 persen. Kenaikan ini terutama dipicu oleh lonjakan impor barang modal yang tumbuh 18,54 persen, mencerminkan aktivitas investasi dan ekspansi kapasitas produksi di dalam negeri. Sementara itu, impor migas justru menurun lebih dari 10 persen.
Selain perdagangan, stabilitas harga turut menjadi perhatian. Pada Desember 2025, inflasi tercatat sebesar 0,64 persen secara bulanan, dengan inflasi tahunan berada di level 2,92 persen. Tekanan harga terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, sejalan dengan meningkatnya permintaan akhir tahun serta faktor distribusi di sejumlah wilayah yang terdampak bencana banjir.
Kondisi sektor pertanian menunjukkan sinyal menggembirakan. Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Desember 2025 naik menjadi 125,35, menandakan peningkatan daya beli petani. Kenaikan ini didorong oleh harga hasil pertanian yang tumbuh lebih cepat dibandingkan biaya produksi.
Produksi pangan pun diproyeksikan meningkat signifikan. Potensi luas panen padi pada periode Desember 2025 hingga Februari 2026 diperkirakan melonjak lebih dari 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan potensi produksi beras mencapai 6,23 juta ton. Produksi jagung juga diprediksi tetap tumbuh, meskipun dengan laju yang lebih moderat.
Di sektor jasa, pemulihan pariwisata terus berlanjut. Kunjungan wisatawan mancanegara pada November 2025 mencapai 1,20 juta kunjungan, naik hampir 10 persen secara tahunan. Secara kumulatif, sepanjang Januari–November 2025, jumlah kunjungan wisman mendekati 14 juta.
Perjalanan wisatawan nusantara bahkan tumbuh lebih tinggi, mencerminkan kuatnya pergerakan ekonomi domestik.
Sejalan dengan itu, mobilitas masyarakat meningkat di berbagai moda transportasi.
Jumlah penumpang kereta api, angkutan laut, udara, hingga penyeberangan ASDP mencatat pertumbuhan tahunan, sementara volume angkutan barang laut dan kereta juga mengalami kenaikan signifikan.
Rangkaian indikator ini menunjukkan bahwa di tengah tantangan global, perekonomian Indonesia memasuki 2026 dengan fondasi yang relatif solid—ditopang oleh surplus perdagangan, inflasi yang terjaga, sektor riil yang bergerak, serta permintaan domestik yang terus menguat.
**Benksu

