Uritanet – SEMARANG, 18 November 2025 Siapa sangka sebuah perjalanan menuju dunia batik bisa berawal dari rasa peduli dan keinginan sederhana untuk berbagi? Begitulah kisah lahirnya Zie Batik, salah satu penggerak batik ramah lingkungan yang kini dikenal luas, bukan hanya di Semarang, tetapi juga hingga tingkat nasional dan mancanegara.

Berawal dari Museum Tekstil
Di awal tahun 2000-an, pendiri Zie Batik mulai menapaki dunia batik bukan dari garis keturunan pembatik, melainkan dari rasa ingin tahu.
“Kami bukan keluarga pembatik,” kenangnya. “Tapi kami ingin belajar, ingin tahu bagaimana batik bekerja, dan bagaimana kita bisa berbagi ilmu kepada orang lain.”
Kunjungan ke Museum Tekstil Jakarta menjadi titik awal perjalanan itu. Namun belajar teori saja tidak cukup. Mereka merasa masih kurang. Muncullah pertanyaan: bagaimana memberikan edukasi yang benar kalau belum merasakan langsung denyut industri batik?

Belajar ke Kota-Kota Batik
Perjalanan kemudian berlanjut ke pusat-pusat batik: Yogyakarta, Solo, Pekalongan. Hingga akhirnya pada tahun 2004, pilihan itu mengerucut: Semarang. Kota yang dulu dikenal sebagai wilayah Jawa yang “tidak punya batik”, justru memantik semangat untuk membangkitkan identitas baru.

“Kalau bukan kita yang mulai, siapa lagi?” ujar Marheno Jayanto, founder Zie Batik.
Dari sanalah edukasi batik Semarang dimulai, dari sekolah-sekolah hingga komunitas, perlahan membangun pondasi bagi lahirnya batik Semarangan modern.
Dukungan Pemerintah Kota
Usaha ini tidak berjalan sendiri. Pemerintah Kota Semarang memberikan dukungan penuh, dari pelatihan hingga pendampingan UMKM. Bagi para pengrajin Zie Batik, dukungan itu menjadi energi yang menumbuhkan kebanggaan: bahwa Semarang kini punya batiknya sendiri, lengkap dengan ragam motif dan karakter kotanya.

Mengolah Warna dari Alam
Di tengah derasnya batik sintetis, Zie Batik memilih jalan berbeda: pewarnaan alami. Kulit kayu, kulit buah, hingga tumbuhan lokal diolah menjadi warna-warna lembut yang khas.
Prosesnya tetap mengikuti tujuh tahapan tradisional batik: mulai mendesain, mencanting, hingga pewarnaan dan penguncian warna. Kualitas menjadi kunci. Karena itu, produk Zie Batik telah memenuhi SNI, bersertifikat halal, dan mematuhi prinsip industri ramah lingkungan.
Tidak hanya pewarnaan alami, bahan baku mereka juga memanfaatkan limbah mangrove, hasil kolaborasi dengan Indonesia Power.
Tanpa disengaja, inovasi ini mengantarkan Zie Batik menjadi mitra banyak lembaga dalam pengembangan batik berkelanjutan.

Mengajar Tanpa Henti
Alasan terbesar Zie Batik terus bergerak adalah satu: berbagi. Pelatihan diberikan bukan hanya di Semarang, tetapi juga ke kota-kota lain, termasuk Lombok dengan komunitas penenun yang diajak beralih ke bahan warna alami.
“Kalau ada di antara pekerja kami ingin mandiri, kami dukung. Mereka bukan pesaing, tapi mitra. Semakin banyak pengrajin, semakin hidup ekosistem batik kita,” tutur Heno.
Dikenal Hingga Mancanegara
Sebelum pandemi, batik Zie sudah melangkah ke Jepang dan Korea. Bukan sekadar karena kualitas produk, tetapi pengalaman yang diberikan. Setiap pengunjung galeri diajak melihat langsung kebun warna, belajar proses pewarnaan, bahkan mencoba mencanting.

Moto mereka sederhana: agar orang kembali menghargai batik. Sebab banyak masyarakat belum bisa membedakan batik tulis asli dan tekstil bermotif batik. Dengan edukasi langsung, mereka ingin mengubah kebiasaan itu.
Inovasi Tanpa Akhir
Mengikuti berbagai pameran nasional dan internasional membuat Zie Batik terus berinovasi. Mereka memadukan kearifan lokal, keberlanjutan, dan standar kualitas tinggi untuk bersaing dengan kota-kota besar seperti Yogyakarta dan Solo.
“Walaupun kami dari Semarang, kalau terus belajar dan berinovasi, produk kami bisa sejajar,” ujar Heno optimistis.
**Benksu

