Kepahiang, Bengkulu (Uritanet) :
Semangat mewujudkan keluarga yang sehat, bahagia, dan sejahtera terus digaungkan melalui Sosialisasi dan Komunikasi, Informasi, serta Edukasi (KIE) Program Bangga Kencana yang digelar bersama mitra kerja Komisi IX DPR RI dan BKKBN, Sabtu, 4 Oktober 2025, di Gedung Serbaguna Kuto Aur, Desa Tebat Monok, Kecamatan Kepahiang, Kabupaten Kepahiang.
Kegiatan ini dihadiri oleh Hj. Eko Kurnia Ninggsih, Anggota Komisi IX DPR RI; Linda Rospita, SH, Kepala DP2KBP3A Kabupaten Kepahiang; Edi Sofyan, S.E., M.M, Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana Ahli Madya BKKBN Provinsi Bengkulu; serta Nopian Andusti, S.E., M.T, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga, Kemendukbangga/BKKBN Pusat.

Dalam sambutannya, Hj. Eko Kurnia Ninggsih menyampaikan bahwa Program Bangga Kencana merupakan bentuk evolusi dari gerakan Keluarga Berencana (KB) yang dahulu dikenal dengan slogan “Dua Anak Cukup”.
“Sesuai dengan komisi saya di Komisi IX DPR RI, saya membawa mitra kerja dari BKKBN. Kalau dulu BKKBN dikenal dengan KB, kini berkembang menjadi Bangga Kencana — Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana,” jelasnya.
Ia menegaskan pentingnya menjaga kesehatan dan menerapkan pola hidup bergizi. “Kalau kita sehat, segala aktivitas menjadi menyenangkan. Sayangi diri kita dengan makan makanan yang bergizi,” pesannya penuh makna.

Tekan Pernikahan Dini, Wujudkan Generasi Sehat
Selanjutnya Kepala DP2KBP3A Kabupaten Kepahiang, Linda Rospita, SH, mengungkapkan bahwa pihaknya terus melakukan sosialisasi hingga ke sekolah-sekolah untuk menekan angka perkawinan usia dini.
“Usia ideal menikah bagi perempuan adalah 21 tahun dan bagi laki-laki 25 tahun. Kabupaten Kepahiang saat ini menempati urutan ke-4 tertinggi kasus pernikahan dini di Provinsi Bengkulu,” ujarnya.
Linda menambahkan, Program Bangga Kencana hadir untuk mengawal setiap tahapan kehidupan, mulai dari calon pengantin hingga lansia. “Dengan pendampingan sejak dini, keluarga yang terbentuk akan lebih sehat, bahagia, dan sejahtera,” tegasnya.

Menata Penduduk, Menuju Keseimbangan dan Generasi Emas 2045
Sementara itu, Edi Sofyan, S.E., M.M dari BKKBN Provinsi Bengkulu menyoroti pentingnya upaya mewujudkan penduduk tumbuh seimbang demi mencapai generasi emas Indonesia 2045.
“Saat ini rata-rata keluarga di Indonesia memiliki 2 hingga 3 anak. Angka kelahiran nasional sudah mendekati 2,1, dan ini menunjukkan pertumbuhan penduduk yang relatif stabil,” ungkapnya.
Namun, ia menyoroti ketimpangan dalam kepesertaan program KB. “Dari data kami, hanya sekitar 4% peserta KB adalah laki-laki. Artinya, peran ayah dalam keluarga perlu terus diperkuat,” tambahnya.

Peran Ayah dan Lansia dalam Keluarga Sejahtera
Menutup sesi, Nopian Andusti, S.E., M.T dari BKKBN Pusat menekankan bahwa Program Bangga Kencana tidak semata berbicara soal alat kontrasepsi, tetapi menyangkut kesejahteraan keluarga secara menyeluruh.
“Kita mulai dari calon pengantin, bagaimana menciptakan bibit yang baik, memastikan kesehatan sebelum menikah, hingga membentuk karakter anak remaja melalui peran ayah di rumah,” tuturnya.
Ia juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap lansia. “Masalah terbesar bagi lansia bukan hanya kesehatan, tetapi rasa kesepian. Karena itu, pemberdayaan lansia menjadi kunci agar mereka tetap merasa berarti dan bahagia,” katanya menutup sesi dengan empati mendalam.
Melalui sosialisasi Program Bangga Kencana di Kepahiang ini, harapan besar digulirkan: membangun keluarga Indonesia yang sehat, tangguh, dan sejahtera. Kolaborasi antara DPR RI, BKKBN, dan pemerintah daerah menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan generasi berkualitas menuju Indonesia Emas 2045 — keluarga yang tidak hanya cukup anak, tetapi cukup cinta, cukup perhatian, dan cukup kebahagiaan.
)*** Tjoek

