Ubah Paradigma Bertani untuk Tingkatkan Penghasilan

Uritanet, – Dorong perubahan paradigma bertani untuk meningkatkan penghasilan petani. Dan perlu usaha yang keras agar petani mampu membuat produk olahan dari hasil pertaniannya. Umumnya, petani hanya berfokus pada hasil produksi pertanian dan menjualnya saja. Sedangkan sistem konvensional seperti itu sulit untuk dapat meningkatkan kesejahteraan hidup petani. Pasalnya, hasil panen dan harga jual sifatnya fluktuatif, ujar Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti (30/8).

Jadi perlu ada upaya agar petani memiliki nilai lebih dari hasil panennya sendiri. Misalnya seperti petani buah manggis asal Banjar Dinas Delod Pura, Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Buleleng yang berinovasi membuat minuman brem dari bahan manggis. Langkah ini bisa ditiru. Namun kita paham petani kita sulit berubah dan berinovasi, sehingga perlu kerja keras pemerintah untuk mengubah paradigma mereka, urainya.

Dikatakannya, petani umumnya menanam dan memanen, setelah itu menunggu panen berikutnya.

“Saya melihat petani punya peluang mempelajari inovasi pertanian seperti membuat produk olahan dan memiliki nilai tambah. Terobosan ini harus didorong dengan keras dan serius,” tutur LaNyalla.

Ia yakin jika paradigma bertani berubah, maka akan mampu meningkatkan penghasilan.

“Maka, perlu pembenahan dari hulu hingga hilir, agar petani dapat mengolah hasil produksinya menjadi produk olahan yang akan memberikan nilai tambah untuk mereka,” kata LaNyalla.

Untuk meningkatkan nilai tambah, petani buah manggis asal Banjar Dinas Delod Pura, Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Buleleng, berinovasi membuat minuman brem dari bahan manggis. Petani sudah mengolah buah manggis menjadi brem sejak 2019 lalu. Terobosan ini dilakukan mengingat saat musim panen harga manggis anjlok. Dari satu ton manggis yang dihasilkan dari kebun seluas empat hektare miliknya, sebanyak tiga kuintal manggis terbuang.

)***

Komentar